Cuaca Panas Ekstrem akibat Krisis Iklim Bayangi Piala Dunia 2026
Duwi Setiya Ariyanti • Author
15 June 2026
27
• 5 Minutes Read

Piala Dunia yang berlangsung sejak 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, ternyata harus menanggung dampak buruk penggunaan energi fosil. Bertepatan dengan musim panas, lembaga pemerhati isu iklim Climate Central menyebutkan bahwa suhu di stadium kali ini akan setara dengan 10 hari terpanas selama periode turnamen, yakni Juni-Juli pada 1991-2020.
Dalam laporannya, bertajuk 2026 World Cup Stadiums: Extreme Heat Rising Climate Central menyebutkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh perilaku manusia berkontribusi terhadap kenaikan cuaca ekstrem, yang memengaruhi penyelenggaraan Piala Dunia.
Laporan ini menyebut bahwa polusi dari material penangkap panas atau heat-trapping pollution akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas fosil menyumbang 49% terhadap hari dengan panas ekstrem. Hal itu terlihat pada perhitungan rata-rata di 16 stadion yang mencetak suhu panas ekstrem pada Juni-Juli sejak 1970.
Seberapa parah pemanasannya?
Secara agregat, mengacu pada hasil riset Climate Central, batas panas ekstrem berada pada rentang 62,2°F atau sekitar 16,67°C di Mexico City hingga 89,2°F atau 31,78°C di Dallas, AS. Suhu ekstrem dan kemungkinan berbahaya ini jarang terjadi pada 1970-an, tetapi ternyata terjadi lebih sering di beberapa stadion. Misalnya, suhu panas ekstrem pada Juni-Juli terjadi paling sering di dua stadion di AS, yakni Miami dan Houston. Kemudian, dua stadion di Meksiko, yakni Mexico City dan Guadalajara.
Tanda-tanda cuaca panas ekstrem di pesta bola tahun ini, Juni-Juli, bakal terjadi lebih sering dibandingkan dengan sebelumnya, yakni menjelang Piala Dunia 1994, di delapan kota di AS atau Piala Dunia 1986 di dua kota di Meksiko. Kenaikan suhu pun telah terlihat, contohnya di Miami, AS dan Mexico City yang mengalami kenaikan tertinggi, tujuh kali lebih panas dibandingkan periode Juni-Juli sebelumnya.
Menariknya, berdasarkan data FIFA yang diolah redaksi, Miami Stadium berperan penting karena menjadi tempat bagi penyelenggaraan tujuh pertandingan, termasuk babak perempat dan semi final. Pertandingan rencananya dimulai pada pukul 16.00 waktu setempat. Kemudian, Mexico City Stadium akan menjadi tuan rumah lima pertandingan. Satu di antaranya diselenggarakan siang hari pukul 13.00 yang mempertemukan Meksiko dengan Afrika Selatan, pertandingan pembuka pada 11 Juni 2026 lalu.
Dari data yang sama, secara total, 33 pertandingan bakal diselenggarakan pada siang hari mulai dari pukul 11.00 hingga 14.00 waktu setempat. Pertandingan panas di suhu panas ekstrem, seperti Portugal melawan Kongo pada 17 Juni dan Portugal melawan Uzbekistan pada 23 Juni berlangsung pada pukul 12.00 waktu setempat di Houston Stadium, AS. Kemudian, jawara Piala Dunia sebelumnya, Argentina bakal turut merasakan dampak cuaca panas ekstrem. Argentina pada kesempatan itu melawan Austria di Dallas Stadium, AS yang rencananya digelar pada 22 Juni pukul 12.00 waktu lokal.
Riset serupa pun telah dilakukan oleh Lindner-Cendrowska dkk. Dalam riset bertajuk Prospective Heat Stress Risk Assessment for Professional Soccer Players in the Context of the 2026 FIFA World Cup, tim riset ini menemukan 10 dari 16 stadion tempat penyelenggaraan Piala Dunia memiliki risiko sangat tinggi mengalami tekanan parah akibat panas. Prediksi rata-rata tertinggi per jam atas Indeks Panas Iklim Universal (Universal Thermal Climate IndexUTCI) dan kehilangan air berlebihan akibat panas akan terjadi pada siang hari di stadion yang berlokasi di wilayah selatan AS, yakni Houston Stadium dan Monterrey Stadium di Meksiko.
Risiko akibat panas ekstrem pada Piala Dunia pun mengancam pemain pengganti dan penonton karena di lokasi seperti Arlington, mencatatkan UTCI rata-rata tertinggi melampaui 37°C bahkan saat simulasi menunjukkan tingkat aktivitas dengan produksi panas tubuh yang rendah dan moderat. Riset turut menghasilkan batas nilai UTCI sebesar 49,5°C. Nilai ini diestimasikan sebagai titik balik dari panas yang bisa ditoleransi menjadi parah. Kondisi ini terlihat saat sistem pengelolaan panas tak efisien dan temperatur inti mulai naik tiba-tiba.
Selama Piala Dunia berlangsung, riset itu turut menyebut bahwa kemungkinan tertinggi panas yang tak bisa ditoleransi, yakni hampir 70% yang terjadi di Arlington dan Houston. Mengekor, Monterrey yang melampaui 50%, turun secara tajam setelah pukul 18.00 waktu setempat. Di sisi lain, meski tambahan jadwal pertandingan hingga malam dan dini hari dapat menurunkan dampak buruk panas ekstrem, Miami dan Houston tetap menunjukkan gejala panas di tengah aktivitas moderat.
Tanpa mitigasi yang memadai dan panas yang terakumulasi di tubuh, dikombinasikan dengan kurangnya waktu istirahat, risiko heat stroke atau kondisi tubuh gagal mengelola panas akan meningkat.
Apa yang harus dilakukan?
Studi Lindner-Cendrowska dkk menyarankan agar FIFA beradaptasi dengan panas ini melalui penyesuaian jadwal pertandingan, penambahan waktu istirahat untuk pendinginan dan rehidrasi di masing-masing stadion. Mitigasi ini diperlukan untuk menjaga performa para atlet.
Riset yang dirilis pada 28 November 2024 itu pun mengingatkan bahwa dampak suhu panas ekstrem berpotensi menurunkan keberhasilan tim, mengacu pada temuan ilmiah sebelumnya.
Mitigasi serupa bahkan lebih kompleks, agaknya perlu dipersiapkan oleh FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia untuk mencegah dampak terburuk. Alasannya, dalam laporan terbaru Indicators of Global Climate Change yang diterbitkan oleh Copernicus pada 11 Juni 2026, secara umum, suhu bumi sudah jauh lebih menghangat.
Estimasi menunjukkan bahwa kenaikan suhu global mencapai 1,5°C pada 2030—mayoritas di antaranya terjadi karena akibat manusia. Hal itu berdasarkan emisi rata-rata tahunan pada 2015-2024 berkisar pada 54.6 ± 5.5 GtCO2e. Sebagian besar dari emisi ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil dan aktivitas industri.
Tanpa upaya aktif mengurangi emisi, dunia bergerak menuju pemanasan hingga 3°C pada 2100. Apabila manusia ingin menjaga Bumi tetap layak huni, pemanasan harus dijaga agar tidak melebih 1,5°C pada 2050.
Menahan laju pemanasan ini membutuhkan upaya yang lebih keras dari seluruh dunia, termasuk transisi energi terbarukan. McKinsey Global Institute dalam laporannya mendapati progres usaha ini memang sudah terlihat, tapi masih jauh dari cukup untuk menahan laju pemanasan Bumi yang menyebabkan krisis iklim.

