'Climate Anxiety': Makin Cemas kala Suhu Bumi Memanas

Duwi Setiya Ariyanti • Penulis

08 Oktober 2026

total-read

0

• 5 Menit membaca

'Climate Anxiety': Makin Cemas kala Suhu Bumi Memanas

Image: Markus Spiske/Pexels

 

Rentetan bencana yang memenuhi informasi di media sosial hingga judul berita bukanlah hal yang mudah kita hindari. Lebih dari sekadar foto, video, atau artikel, itu semua gambaran nyata di luar tembok rumah kita. Sebut saja banjir akibat gletser yang mencair di Nepal hingga banjir parah yang terjadi di Jepang, Thailand, dan Indonesia membawa rasa prihatin sampai kekhawatiran terhadap kondisi Bumi. Rentetan bencana dan berita negatif ini membuat kondisi kita tak nyaman saat mengetahuinya dan mulai memperhitungkan pandangan yang muram terhadap apa yang bisa terjadi esok.

 

Rentetan bencana itu tak bisa dilepaskan dari perubahan iklim akibat kenaikan suhu Bumi. Dari data terbaru, kenaikan suhu bumi melampaui 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, risiko dan dampak terhadap kenaikan suhu tersebut akan makin parah setiap tahunnya. Cuaca ekstrem, kerugian ekosistem, dan tenggelamnya pulau-pulau kecil menjadi dampak yang perlu diantisipasi. Kerusakan parah pada kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, alam, kota-kota, infrastruktur, dan ekonomi pun akan mengikuti. 

 

Rasa prihatin hingga kekhawatiran terhadap kondisi saat ini dan masa depan sangatlah valid saat berhadapan dengan berbagai berita soal bencana akibat rusaknya alam yang terus-menerus. Dari situlah mulai muncul kondisi bernama climate anxiety. 

 

Apa itu climate anxiety? 

 

Climate anxiety atau kecemasan soal iklim merupakan stres negatif akibat perubahan iklim dan dampaknya terhadap kondisi alam dan manusia. Climate anxiety merupakan pikiran yang muncul tiba-tiba dan biasanya bertentangan dengan apa yang muncul secara sadar, atau perasaan tertekan soal bencana di masa depan serta kondisi dunia beserta isinya. Secara fisik, climate anxiety tak jarang juga berhubungan dengan meningkatnya detak jantung dan napas tersengal-sengal. 

 

Dua pakar dari Yale University: Anthony Leiserowitz dan Sarah Lowe menjelaskan lebih lanjut soal kondisi ini.

 

Ada hal yang membedakan antara climate anxiety dengan rasa khawatir biasa. Rasa khawatir berada pada spektrum yang lebih sehat karena dari situ muncul motivasi untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan dengan pemicu rasa khawatirnya. Dalam konteks perubahan iklim, rasa khawatir diperlukan agar lebih banyak pihak melakukan aksi nyata untuk menurunkan dampak negatif perubahan iklim. Ada pula keprihatinan yang merujuk pada kondisi yang lebih umum dan tidak memicu aksi seperti halnya rasa khawatir. 

 

Namun saat mencapai climate anxiety, kondisinya lebih mengganggu dan membuat individu kewalahan dengan rasa khawatirnya. 

 

Dalam 20 tahun terakhir, para ahli telah mendiskusikan sejumlah kondisi yang terkait dengan climate anxiety, termasuk duka ekologis atau ecological grief, yakni perasaan merindukan atau kesedihan berdasarkan pengamatan orang-orang terhadap perubahan ekosistem. Kemudian, solastalgia atau perasaan nostalgia terhadap kondisi lingkungan di tempat tinggal individu dan bagaimana kondisi yang seharusnya. 

 

Gambaran climate anxiety terlihat pada hasil survei terhadap 1.085 responden di Amerika Serikat pada 2022 yang menunjukkan bahwa 10% responden merasakan cemas tentang pemanasan global setidaknya beberapa hari dalam sepekan. Ada kelompok responden yang tak bisa menyetop atau mengendalikan kekhawatiran terhadap pemanasan global, yakni sebanyak 9% dan 7% mengalami penurunan minat atau kesenangan melakukan kegiatan tertentu akibat pemanasan global. 

 

Meskipun climate anxiety dialami sebagian kecil responden, hal itu tak memperkecil urgensi isu perubahan iklim. Terutama, lebih dari separuh, yakni 58% memahami bahwa pemanasan global sebagian besar disebabkan oleh manusia dan 47% telah merasakan dampaknya. 

 

Di Indonesia, climate anxiety mulai menjadi perhatian pengguna mesin peramban Google. Data Google hingga Selasa (6/10/2026) mencatat, dalam lima tahun terakhir pencarian kata kunci climate anxiety mulai menanjak pada November 2025 dan menyentuh level tertinggi pada Februari 2026 sebelum kembali mendaki pada September 2026. Pencarian kata kunci ini berasal dari pengguna yang berdomisili di Sumatra Utara, Bali, dan seluruh provinsi di Pulau Jawa. 

 

 

Bagaimana meredam climate anxiety?

 

Alam yang rusak, bencana, korban jiwa, dan para penyintas memang potongan informasi yang pahit untuk diterima. Namun, itulah kenyataannya. 

 

Untuk menangani climate anxiety, belajar dari pengalaman para responden di Negeri Paman Sam memilih untuk menghindari informasi tentang pemanasan global. Paparan berita negatif, seperti bencana alam yang masif dan penembakan massal cenderung membawa gejala psikiatri lebih parah. 

 

Oleh karena itu, para pakar di Yale University menyarankan agar individu bijak mengelola paparan informasi menjadi penting agar tidak merasa kewalahan. Hal ini bukan berarti meninggalkan paparan berita sama sekali karena ada perbedaan untuk mendapatkan fakta dan membaca artikel dengan cerita yang sama terus-menerus sambil melihat gambar yang memicu perasaan tidak nyaman. Cara lain yang bisa dilakukan, yakni berjalan kaki, berolahraga, konsumsi makanan bernutrisi, meditasi, dan terhubung dengan teman agar tetap tangguh sebagai manusia. 

 

Lebih dari itu, upaya terdekat yang bisa dilakukan bersama untuk menangani perubahan iklim bisa menjadi cara jitu untuk menangani keputusasaan dan ketidakberdayaan. Caranya, dengan menggunakan moda transportasi umum bisa membantu menurunkan emisi karbon. Kemudian, bijak menggunakan listrik yang juga bisa mengurangi emisi karbon. Terakhir, bijak menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang turut menurunkan konsumsi air bersih yang kini menjadi perhatian di Jawa Barat dan Kepulauan Riau. 

 

Dari sisi pemerintah, diperlukan upaya menyeluruh untuk menurunkan emisi karbon melalui transisi energi. Di sektor energi, misalnya, menyumbang emisi sebesar 829.883 kiloton ekuivalen karbon dioksida (kton CO2eq). Oleh karena itu, langkah yang ditempuh individu tak akan lengkap tanpa upaya pemerintah untuk dekarbonisasi, salah satunya meningkatkan bauran energi terbarukan dan melakukan pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bertenaga batu bara. 

 

Solusi ini tak lagi bisa ditawar karena Indonesia dengan ambisi mencapai target nihil emisi pada 2060 bahkan lebih cepat. Alhasil, langkah pemerintah untuk menggunakan sumber energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional harus dipastikan realisasinya karena dampak penurunan emisi lebih dari sekadar pencapaian target, melainkan menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan kualitas hidup lebih baik.

Populer

Terbaru