Akan Memicu Panas Ekstrem, Apa yang Perlu Diketahui Lebih Jauh soal El Nino?
Duwi Setiya Ariyanti • Penulis
10 Juli 2026
5
• 8 Menit membaca

Kredit foto: Maulucioni/Wikimedia Commons
Meskipun kemarau berulang setiap tahun, ada risiko yang diam-diam makin parah dengan datangnya El Nino tahun ini. Mulai dari ancaman serangan panas atau heatstroke, penyakit kardiovaskular, kebakaran hutan, hingga gagal panen disebut menjadi bagian dari risiko El Nino tahun 2026. Apalagi, ada prediksi bahwa El Nino tahun ini lebih kuat dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, apa yang perlu kita ketahui lebih jauh soal El Nino? Bagaimana intensitas ataupun kekuatan El Nino berdampak bagi dunia khususnya Indonesia?
Untuk mengetahui lebih jauh soal El Nino, artikel #TanyaAhlinya kali ini memuat wawancara bersama Supari, Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan dan Musiman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Sebenarnya apa itu El Nino, berdasarkan fakta dan data yang perlu diketahui publik?
El Nino merupakan fenomena anomali iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dibandingkan kondisi normal.
Pemanasan tersebut menyebabkan angin pasat melemah sehingga pusat pembentukan awan dan hujan bergeser dari wilayah Samudra Pasifik bagian barat (termasuk Indonesia) ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Kondisi ini menyebabkan wilayah Indonesia menerima pasokan uap air yang lebih sedikit sehingga curah hujan cenderung berkurang.
El Nino bukan bencana, melainkan fenomena alam yang terjadi secara berulang tetapi dengan jeda waktu yang tidak teratur yaitu setiap 2-7 tahun sekali. El Nino umumnya terjadi dimulai pada semester kedua dan dapat berlangsung terus hingga semester pertama tahun berikutnya.
Apa yang membedakan El Nino dengan musim kemarau biasa?
Musim kemarau merupakan bagian normal dari siklus iklim Indonesia yang terjadi secara teratur setiap tahun akibat aktifnya angin monsun Australia. Sementara itu, El Nino adalah fenomena iklim global yang dipicu oleh terjadinya anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik dan tidak selalu terjadi setiap tahun.
Secara lebih mendetail, El Nino dan musim kemarau dapat dibedakan dalam beberapa aspek. Dari skala waktu, musim kemarau terjadi setiap tahun sebagai bagian dari siklus tahunan iklim Indonesia. Sementara El Nino muncul tidak setiap tahun, umumnya setiap 2–7 tahun dengan durasi sekitar 9–12 bulan (dapat lebih lama).
Dari skala spasial, musim kemarau terjadi di Indonesia dengan skala regional dan berbeda-beda di setiap wilayah. Sementara itu, El Nino berskala global sehingga memengaruhi pola atmosfer dan iklim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Bagaimana hubungan El Nino dengan perubahan iklim?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanasan global memang berpotensi mengubah karakteristik El Nino–Southern Oscillation atau ENSO (Anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang turut mencakup El Nino dan La Nina) di masa depan. Meskipun masih terdapat ketidakpastian mengenai besarnya perubahan tersebut, semakin banyak hasil pemodelan iklim yang mengindikasikan bahwa kejadian El Nino kuat maupun La Niña kuat dapat menjadi lebih sering dibandingkan pada iklim masa lalu.
Hal ini disebabkan oleh perubahan distribusi suhu laut, kandungan panas di lapisan atas samudra, serta perubahan sirkulasi atmosfer tropis yang memengaruhi mekanisme umpan balik antara laut dan atmosfer. Atmosfer yang lebih hangat juga mampu menyimpan lebih banyak uap air, sehingga ketika ENSO terjadi, dampaknya terhadap pola curah hujan dapat menjadi lebih ekstrem, baik berupa kekeringan maupun hujan lebat.
Dengan demikian, perubahan iklim tidak hanya menggeser kondisi dasar lautan yang memengaruhi interpretasi indeks ENSO, tetapi juga berpotensi mengubah frekuensi, karakteristik, dan dampak ENSO terhadap sistem iklim global maupun regional, termasuk di Indonesia.
Apa saja mitos terkait El Nino yang masih beredar di masyarakat?
Mitos yang pertama, El Nino berarti tidak akan turun hujan sama sekali. Faktanya, El Nino memang berdampak pada berkurangnya curah hujan. Di wilayah yang curah hujannya sangat rendah pada musim kemarau, El Nino memang benar dapat menyebabkan kondisi kering tanpa hujan berhari-hari.
Namun, di wilayah yang curah hujannya masih cukup tinggi ketika musim kemarau, seperti wilayah Kalimantan, umumnya curah hujan masih terjadi selama El Nino berlangsung, tetapi intensitasnya berkurang.
Mitos yang kedua, seluruh Indonesia mengalami dampak yang sama. Faktanya ternyata dampak El Nino berbeda-beda di setiap wilayah tergantung karakteristik iklim lokal. Di Indonesia wilayah yang tidak terdampak signifikan antara lain Sumatra Utara dan Aceh.
Terakhir, El Nino pasti menyebabkan gelombang panas (heatwave) seperti di Eropa. Kenyataannya, Indonesia memang dapat mengalami suhu udara lebih panas dari biasanya, terutama pada siang hari, akibat berkurangnya pembentukan awan sehingga langit cenderung cerah dan penyinaran matahari menjadi maksimum. Namun, suhu udara di wilayah Indonesia tidak mencapai suhu ketika terjadi heatwave di negara sub-tropis.
Bagaimana El Nino bisa menjadi fenomena yang membawa risiko parah?
Meskipun El Nino dapat terjadi hingga semester pertama tahun berikutnya, tetapi puncak dampak El Nino di Indonesia adalah pada periode Juni hingga November, yang bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia.
El Nino dengan intensitas kuat dapat menyebabkan risiko kekeringan parah terutama di wilayah yang secara klimatologis curah hujan bulanannya rendah seperti wilayah NTB dan NTT. Risiko kekeringan parah juga dapat terjadi di wilayah yang secara geologis memang sedikit sumber air.
Bagaimana proyeksi BMKG terkait kondisi dan potensi dampak El Nino kali ini?
Berdasarkan prediksi hujan bulanan BMKG, mulai Juli hingga Oktober 2026, terdapat banyak wilayah yang mengalami curah hujan bawah normal. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan terjadinnya dampak lanjutan seperti kekeringan pada lahan pertanian yang dapat memicu gagal panen, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan karena iklim yang kering dan panas. Secara lebih detail ada wilayah yang akan mengalami curah hujan di bawah normal seperti Jawa bagian timur, Sulawesi maupun Kalimantan bagian selatan, Sumatra bagian selatan, hingga Papua bagian barat hingga selatan.
Sumber: BMKG
Apa yang perlu diperhatikan dari sisi mitigasi dan adaptasi agar masyarakat tetap bisa beraktivitas dengan aman?
BMKG merekomendasikan masyarakat untuk menghemat penggunaan air, memanfaatkan panen air hujan apabila masih tersedia, menyiapkan cadangan air untuk menghadapi puncak kemarau, dan menghindari pembakaran lahan atau sampah di ruang terbuka.
Bagi petani, penyesuaian waktu tanam dan pemilihan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Kemudian, mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari ketika suhu udara lebih tinggi dari biasanya. Lalu, terus memantau informasi prakiraan cuaca dan iklim terbaru.
Bagaimana proyeksi terkait El Nino berikutnya dan mengapa masyarakat harus mempersiapkan diri?
Fenomena ENSO (Anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang turut mencakup El Nino dan La Nina) merupakan siklus alami yang akan terus berulang, meskipun waktu kemunculan dan intensitasnya tidak selalu sama. Oleh karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya diperlukan untuk menghadapi El Nino saat ini, tetapi juga sebagai bagian dari pengelolaan risiko iklim jangka panjang.
Kemunculan El Nino umumnya dapat diprediksi sekitar enam bulan sebelumnya sehingga memberikan jendela waktu yang cukup untuk membuat rencana langkah mitigasi. Oleh karena itu penting bagi masyarakat agar senantiasa mengikuti informasi cuaca dan iklim BMKG untuk mengetahui perkembangan iklim terkini. BMKG akan terus memperbarui analisis dan prediksi ENSO sesuai perkembangan kondisi atmosfer dan lautan.
Apa saja upaya yang perlu dilakukan berbagai pihak untuk menghadapi risiko El Nino?
Di Indonesia, El Nino dapat menyebabkan dampak lanjutan pada berbagai sektor, sehingga perlu adanya langkah sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor. Dampak lanjutan bagi berbagai sektor misalnya pertanian berupa kekeringan lahan pertanian, mundurnya atau gagalnya musim tanam, penurunan produktivitas tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, dan lain-lain), potensi peningkatan serangan hama tertentu akibat kondisi kering dan produksi pangan menurun sehingga dapat memengaruhi harga pangan.
Di sektor kehutanan, dampaknya vegetasi menjadi lebih kering sehingga mudah terbakar. Kemudian, meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jika itu terjadi, maka terjadi kerusakan ekosistem dan habitat satwa. Dampak lainnya, emisi karbon meningkat akibat kebakaran hutan dan gambut.
Dari sisi kualitas udara, asap dari kebakaran hutan dan lahan meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan PM10. Berkurangnya hujan pun menyebabkan polutan lebih lama berada di atmosfer (proses pencucian udara oleh hujan berkurang). Terlebih, di wilayah terdampak karhutla.
Pada aspek energi, debit sungai dan waduk menurun sehingga produksi PLTA dapat berkurang. Sementara itu, permintaan listrik meningkat karena penggunaan pendingin ruangan(AC) dan kipas angin. Oleh karena itu, ada potensi gangguan pasokan listrik di daerah yang sangat bergantung pada PLTA saat kondisi ekstrem.
Di sektor perikanan, perubahan suhu permukaan laut dan sirkulasi laut memengaruhi distribusi ikan sehingga daerah penangkapan ikan dapat bergeser. Di beberapa wilayah selatan Indonesia, upwelling (naiknya air laut bagian dalam yang lebih dingin ke permukaan) yang lebih kuat dapat meningkatkan produktivitas perikanan tangkap tertentu, tetapi dampaknya tidak merata di seluruh Indonesia.
Lalu, dari sisi sumber daya air, curah hujan yang berkurang menyebabkan debit sungai menurun. Kemudian, cadangan air waduk, embung, dan danau menyusut yang bisa berpengaruh terhadap berkurangnya ketersediaan air baku untuk rumah tangga, pertanian, dan industri. Pada akhirnya, risiko kekeringan hidrologis meningkat.
Oleh karena itu, menghadapi El Nino memerlukan kolaborasi seluruh pihak. Masing-masing sektor diharapkan merespons melalui langkah masing-masing untuk mengurangi dampak El Nino.

