Mengapa Program PLTS 100 GW Prabowo Perlu Menghitung Risiko El Nino

Robby Irfany Maqomaq Penulis

11 Juli 2026

total-read

1

5 Menit membaca

Mengapa Program PLTS 100 GW Prabowo Perlu Menghitung Risiko El Nino

Kredit foto: Analogicus: Pixabay

Indonesia dan banyak negara lain sedang berlomba membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengejar target transisi energi terbarukan. Presiden Prabowo Subianto sendiri memiliki proyek ambisius agar Indonesia dapat menggenjot kapasitas PLTS hingga 100 gigawatt (GW) dalam dua tahun ke depan.

Namun, ada satu variabel yang jarang dibahas serius dalam perencanaan proyek-proyek ini: anomali iklim, yakni berbagai dampak El Nino itu sendiri bisa menjadi risiko bagi produksi listrik energi surya, dan ancamannya datang dari berbagai faktor.

El Nino dan polusi yang menghalangi radiasi 

El Nino merupakan anomali iklim yang menyebabkan sinar matahari lebih terik dan cuaca lebih kering karena awan hujan yang semakin jarang terbentuk dalam periode tersebut. Di Indonesia, karakter cuaca ini membuat udara tidak banyak bergerak. Ini pun termasuk partikel-partikel halus (partikel matrikulat) seperti PM 2,5 dan PM 10 hasil pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan, pabrik-pabrik, hingga pembangkit listrik.  

Di Jakarta, misalnya. Analisis WRI Indonesia berdasarkan data 2019-2023 mencatatkan konsentrasi PM2,5 memuncak sejak Juni-Agustus, lalu berkurang mulai September-April. Sumber polusi ini beragam: emisi kendaraan bermotor menyumbang 13-40% partikulat di udara, sementara pembangkit listrik tenaga uap batu bara di sekitar Ibu Kota menyumbang 20-30% lainnya

Partikel PM2,5 di udara kemudian menghalangi cahaya matahari yang seharusnya diterima panel surya. Riset yang terbit pada 2018 mencatat polusi udara membuat Jakarta kehilangan sekitar 4,3% paparan radiasi matahari per tahun. Angka ini lebih tinggi dibanding Singapura, meski masih di bawah Beijing (9,1%) dan Delhi (12,2%). Kehilangan 4,3% itu setara 1.721 kilowatt per meter kubik (KW/m²) per tahun.

Bagaimana dengan kerugiannya? Di New Delhi, India, potensi kerugian karena berkurangnya produksi listrik PLTS mencapai US$ 20 juta atau setara Rp361 miliar per tahun. Sementara di Beijing, Cina, kerugiannya bisa mencapai US$10 juta atau sekitar Rp 180 miliar untuk PLTS atap dengan kapasitas 1000 megawatt (MW). Belum ada studi yang menghitung kerugian PLTS akibat polusi di Jakarta.

Memburuknya kualitas udara akibat El Nino tak hanya terjadi di Jakarta maupun kota besar. Pasalnya, El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah yang kaya gambut seperti Sumatra dan Kalimantan. Risiko tersebut bisa mengganggu target produksi listrik PLTS di Sumatra pada 2034 versi PT PLN, yakni sebesar 2.755 gigawatt jam (GWh) dan 2.099 GWh di Kalimantan. 

Ancaman panas kota

Risiko lainnya yang tidak bisa diremehkan adalah cuaca panas akibat El Nino. Ada anggapan bahwa semakin panas cuaca di luar ruangan, maka potensi listrik yang dihasilkan panel surya meningkat.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Cuaca panas justru bisa memangkas efisiensi panel surya dalam menghasilkan listrik sekitar 10-25%. Hal ini terjadi karena kebanyakan panel surya yang diproduksi saat ini justru bekerja optimal dalam suhu 15-35°C. Setiap 1°C peningkatan suhu, efisiensi panel surya bisa berkurang 0,5%. 

Bagaimana di Indonesia? Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika justru menunjukkan sejumlah kota besar mencatatkan rekor suhu yang melampaui 35°C dalam tiga tahun terakhir. Misalnya, Medan mencatatkan rekor suhu tertinggi 38,2°C pada 1 Juni 2025. Di Surabaya, suhu tertinggi yang tercatat mencapai 37,5°C pada 31 Oktober 2024. Sementara itu, di Jakarta dan Tangerang masing-masing mencatat suhu 36,8°C dan 36,6°C pada September dan Oktober 2023. 

Adapun kota-kota besar berisiko memiliki peningkatan suhu lebih tinggi karena fenomena urban heat island, yakni pemanasan suhu karena aktivitas kendaraan, bangunan yang menyerap panas, pabrik, dan sebagainya yang terkonsentrasi di permukiman dan pusat-pusat bisnis maupun industri. 

Risiko juga ada di jalan tol, terutama yang berlapis aspal. Material ini menyerap panas lebih banyak dan bisa melepaskannya kembali ke area sekitarnya. Misalnya, di kala suhu udara mencapai 38°C, panas yang dilepaskan aspal justru jauh lebih tinggi: 65°C. Masalah panas jalan tol ini sepatutnya menjadi perhatian PT PLN yang berencana membangun PLTS di jalan tol sepanjang 802 km dengan potensi kapasitas 500 MW.

Solusi komprehensif

Uraian berbagai risiko di atas tidak dimaksudkan untuk mencegah pemerintah menambah kapasitas produksi listrik PLTS. Sebab, panel surya hingga saat ini masih menjadi jalan termurah dan tercepat untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan dampak lingkungan yang minimum. 

Justru, risiko di atas semakin menegaskan bahwa upaya transisi energi melalui produksi listrik dari energi bersih tidak bisa berjalan sendirian tanpa perencanaan komprehensif. Perencanaan program 100 GW, dengan demikian, harus dibarengi dengan perbaikan-perbaikan lainnya. 

Langkah pertama yang mendesak adalah menyinkronkan kebijakan udara bersih dengan target transisi energi. Membiarkan polusi udara semakin parah sembari berharap PLTS bekerja optimal justru menjadi kontradiksi yang berisiko. Pengetatan standar emisi industri, pencegahan dan pemadaman karhutla, serta percepatan pensiun dini PLTU batu bara di sekitar pusat kota semestinya menjadi prasyarat untuk menjaga produksi listrik energi terbarukan.

Selain membersihkan udara, aspek teknis pemilihan teknologi tidak boleh asal murah demi mengejar waktu. Mengingat suhu di Indonesia berisiko menembus batas optimal panel surya, spesifikasi infrastruktur yang diadopsi wajib memiliki ketahanan tinggi terhadap panas ekstrem. Ketelitian ini sangat krusial, terutama untuk rencana PLTS di jalan tol yang berisiko mengganggu performa sel surya jika tidak dimitigasi sejak awal.

Terakhir, cetak biru rencana PLTS pemerintah harus menjamin manajemen pemeliharaan pascakonstruksi. Kondisi kering dan berdebu saat El Nino akan mempercepat penumpukan partikel polutan di atas panel surya yang dapat memangkas produksi listrik secara instan. Perencanaan anggaran tidak boleh habis untuk biaya pembangunan saja, tetapi harus mencakup sistem pembersihan dan perawatan berkala yang efisien. Tanpa rencana yang komprehensif, proyek PLTS 100 GW berisiko tak mencapai keluaran terbaiknya.

Populer

Terbaru