El Nino Berisiko Mengulang Pemadaman Listrik Bergilir

Bram Setiawan Penulis

08 Juli 2026

total-read

2

5 Menit membaca

El Nino Berisiko Mengulang Pemadaman Listrik Bergilir

Kredit foto: Ntate Mohlala Sir/Pexels

Pemadaman listrik yang sempat melanda sebagian Jawa dan Sumatra hingga saat ini masih terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Belum selesai masalah tersebut, Indonesia telah memasuki periode El Nino, kondisi kenaikan suhu di permukaan laut Samudra Pasifik yang menyebabkan udara semakin kering dan hujan semakin jarang. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. El Nino dapat memperkuat kondisi kering ketika bersamaan dengan musim kemarau. Adapun musim kemarau diprediksi berlangsung sampai Oktober.

Kemarau yang makin kering akibat El Nino menjadi tantangan bagi sistem kelistrikan nasional. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sangat bergantung pada pasokan batu bara, yang saat El Nino terjadi penyusutan debit air di sungai-sungai utama jalur pengiriman terhambat, seperti Mahakam dan Barito di Kalimantan. Begitu juga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tidak mampu beroperasi optimal. Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) pun rentan mengalami penurunan efisiensi ketika suhu udara meningkat.

Sayangnya sistem kelistrikan Indonesia masih ditopang pembangkit berskala besar, yang apabila terjadi gangguan akibatnya sangat luas, sebagaimana pemadaman bergilir yang belum jelas akhirnya.

Apa Masalah Kelistrikan Indonesia Saat Cuaca Panas?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kapasitas terpasang pembangkit pada April 2026 mencapai 108 gigawatt (GW). Dari besaran itu, 56% di antaranya berasal dari PLTU atau sebesar 60,53 GW. Besarnya porsi PLTU meningkatkan kerentanan terhadap sistem kelistrikan  saat El Nino terjadi.

Kenaikan suhu air laut dan cuaca panas juga dapat mengganggu operasional PLTU. Sebab, banyak PLTU, terutama yang berada di kawasan pesisir, menggunakan air laut untuk pendingin kondensor. Peningkatan suhu air laut mengurangi kemampuan sistem pendingin membuang panas sehingga efisiensi pembakaran batu bara pembangkit menurun. Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pembangkit menurunkan kapasitas operasi (derating) dan pada kondisi tertentu berpotensi mengganggu operasional.

Suhu air laut yang menghangat karena El Nino juga memicu peningkatan populasi ubur-ubur. Apabila ledakan spesies ini terjadi, ubur-ubur bisa masuk ke sistem PLTU yang mengandalkan air laut untuk mendinginkan mesin. Aktivitas tersebut pernah terjadi pada 2016 dan menyebabkan PLTU Paiton, salah satu PLTU terbesar di Indonesia yang terletak di Jawa Timur, tidak beroperasi selama 20 hari

Risiko tak hanya membayangi mesin PLTU, melainkan juga pasokan batu bara sebagai bahan bakar. Di daerah produsen batu bara di Kalimantan, hampir seluruh batu bara diangkut melalui sungai dengan menggunakan tongkang. Saat musim kemarau, debit air di sungai-sungai ini dapat berkurang sehingga mengganggu perjalanan tongkang.

Sebagai contoh, debit air Sungai Mahakam pernah menyusut drastis selama El Nino pada 2015. Saat itu, kapasitas muatan tongkang perlu dikurangi bobotnya hingga 50%, sehingga biaya logistik untuk pengangkutan batu bara dari Kalimantan meningkat. Penurunan debit air Sungai Mahakam pada Agustus 2019, memunculkan 14 titik gosong dan sedimentasi, yang menghentikan aktivitas tongkang besar selama tiga hari. Penurunan debit air Sungai Barito pada 2023 menyebabkan sejumlah produsen mengajukan keadaan kahar karena tongkang tidak bisa bersandar.

PLTG juga bisa bermasalah saat cuaca panas. Sistem operasional pembangkit termal ini membutuhkan udara dalam proses pembakaran gas alam untuk menghasilkan listrik. Temperatur udara yang semakin naik akan menurunkan efisiensi pembangkit listrik bertenaga gas, kemudian mengurangi setrum yang dihasilkan. Peningkatan temperatur mengurangi massa udara yang masuk ke turbin gas, sehingga efisiensi dan daya keluaran pembangkit menurun. Adapun kapasitas terpasang PLTG di Tanah Air mencapai 24,72 GW atau 23%.

Yang paling kentara terdampak El Nino adalah PLTA. Debit air di bendungan PLTA yang menyusut akan mengurangi pasokan ke turbin. Berkurangnya debit air menyebabkan energi yang menggerakkan turbin menurun sehingga produksi listrik ikut berkurang. Di Indonesia, kapasitas terpasang PLTA 7% atau sebesar 7,6 GW. Riwayat masalah PLTA imbas kekeringan El Nino bisa merujuk kejadian pemadaman listrik di Sulawesi Selatan pada 2023.

Kala itu tercatat, 35 persen listrik di Sulawesi Selatan berasal dari PLTA. Contohnya adalah PLTA Bili-bili di Gowa tidak beroperasi hampir tiga bulan, karena debit air waduk turun drastis. Masalah yang sama di luar Sulawesi, pada 2012-2019, ada enam PLTA di Jawa Tengah dan empat PLTA di Sumatra tidak beroperasi karena kekurangan pasokan air.

Pembangkit Listrik Besar Bukan Solusi Ketahanan Energi

Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan yang harus menjaga keseimbangan produksi dan konsumsi setiap saat. Sebab, ketika pembangkit besar kehilangan kapasitas sementara, masyarakat yang menanggung berbagai dampak dari pemadaman listrik yang meluas. 

El Nino merupakan fenomena alam berulang dan berkala, beragam risikonya perlu diminimalkan agar tak berdampak pada kelistrikan yang berskala besar ini. Hal ini mengingat kerentanan sektor ketenagalistrikan Indonesia masih ditangani secara reaktif dan belum menjadi bagian dari strategi nasional yang terintegrasi.

Menurut International Energy Agency (IEA),  keandalan sistem tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga fleksibilitas operasi dan jaringan transmisi. Begitu juga kemampuan jaringan transmisi menyalurkan listrik dari wilayah yang masih memiliki surplus daya ke kawasan yang kekurangan pasokan. Oleh karena itu, pengecekan menyeluruh terhadap jaringan transmisi dan distribusi dibutuhkan sebelum masuk musim kemarau apalagi disertai El Nino.

Sebetulnya, Indonesia punya potensi membangun sistem kelistrikan yang tersebar dengan memanfaatkan energi terbarukan, yang bisa menjadi langkah jangka panjang. Salah satunya adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap maupun energi lokal lainnya yang membuat warga setempat tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen. Kalau rancangan sistemnya tepat dapat membantu meningkatkan ketahanan energi masyarakat ketika sistem kelistrikan terpusat terganggu. Kalau tidak, sama saja membiarkan Indonesia dalam ketergantungan penggunaan energi yang bersumber dari batu bara dengan pembangkit listrik berskala besar.

Pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas pun mendukung kemandirian warga di tingkat lokal, yang juga memiliki manfaat ekonomi. Dengan begitu, masyarakat tidak boncos melulu akibat haknya untuk mengonsumsi listrik terhambat karena Indonesia masih ketergantungan dengan pembangkit berskala besar.

Populer

Terbaru