Bagaimana Hubungan El Nino dengan Panas Ekstrem dan Krisis Iklim?

Bram Setiawan Penulis

15 Juli 2026

total-read

4

5 Menit membaca

Bagaimana Hubungan El Nino dengan Panas Ekstrem dan Krisis Iklim?

Kredit foto: Hydrosami/Wikimedia Commons

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia pada 2026 lebih lama dan kering daripada rata-rata biasanya. Apalagi saat ini sudah masuk periode El Nino, fenomena kenaikan suhu permukaan laut Samudra Pasifik yang menekan curah hujan, diperkirakan bertahan selama 9 hingga 12 bulan. 

El Nino yang bisa membawa pada suhu lebih panas bisa berdampak ke banyak hal. Mulai dari penyakit pernapasan, gangguan produktivitas bagi orang-orang yang bekerja di luar ruangan, gagal panen karena kekeringan, hingga kebakaran hutan. Bahkan, BMKG pun mengingatkan para pengelola sektor energi, yang dalam hal ini pembangkit listrik tenaga air (PLTA), memastikan kecukupan air di bendungan untuk menopang kinerja sarana penyuplai listrik ini.

El Nino merupakan fenomena yang muncul berkala, tapi mengapa makin ke sini, ketika masuk periode tersebut, kondisinya makin terasa berat. Apakah ada dampak faktor lain, yang memengaruhi kondisi El Nino menjadi seperti ini?

Hubungan El Nino, panas ekstrem, dan krisis iklim

Menurut Laporan Keadaan Iklim Global WMO 2025, periode 2015-2025 merupakan sepuluh tahun terpanas yang pernah tercatat. Pada 2025, suhu global tercatat 1,43 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan periode praindustri (1850–1900).

 

El Nino adalah fenomena iklim ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian timur dan tengah naik di atas rata-rata biasanya. Kondisi ini mendorong pergeseran awan konveksi ke Pasifik Timur, sehingga curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia cenderung menurun. Pergeseran pembentukan awan ini menyebabkan Indonesia yang biasanya mendapat pasokan uap air melimpah mengalami penurunan curah hujan. Dampaknya, pada musim kemarau menjadi sangat kering. Kebakaran hutan pun salah satu risiko dari fenomena ini apabila bersamaan dengan musim kemarau.

 

Namun, perlu diketahui juga, El Nino bukan satu-satunya fenomena yang menyebabkan kekeringan di Indonesia. Selain anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, kondisi di Samudra Hindia melalui fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kekeringan. IOD positif berkaitan dengan penyebab kekeringan di wilayah selatan dan barat Indonesia. IOD positif menyebabkan gerak air laut dari bawah ke permukaan di selatan Jawa lebih kuat. Oleh karena itu, air permukaan laut menjadi lebih dingin. Permukaan laut yang dingin ini mengakibatkan kekurangan uap air dan potensi hujan sehingga mengakibatkan kekeringan di sebelah selatan dan barat Indonesia.

Adapun panas ekstrem merupakan periode ketika suhu berada jauh di atas kondisi biasanya suatu wilayah. Walaupun salah satu bentuk dari panas ekstrem adalah gelombang panas, tetapi fenomena tersebut tidak terjadi di Indonesia. Menurut BMKG, gelombang panas umumnya terjadi di lintang menengah tinggi akibat udara yang terperangkap. Indonesia berada di wilayah ekuator, yang memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda. Biasanya yang terjadi di Indonesia peningkatan suhu harian akibat cuaca dan rendahnya tutupan awan pada siang hari, terutama saat memasuki musim kemarau.

Tetapi, walaupun gelombang panas tidak melanda Indonesia, ada risiko lainnya, yakni serbuan panas (hot spells). Fenomena ini dianggap terjadi apabila suhu rata-rata harian melebihi 27,8 derajat Celsius dan berturut-turut minimal tiga hari. Pemerintah Indonesia pun perlu membuat skenario terburuk serangan panas hingga 2035 berdasarkan indikasi peningkatan suhu global 1,5 Celsius

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti kondisi Bumi ini, sebagaimana kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang memperingatkan bahwa El Nino dapat memperkuat kenaikan suhu global yang dipicu perubahan iklim. Dampaknya akan dirasakan di berbagai belahan dunia. Respons yang efektif adalah aksi iklim dengan mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat peralihan ke energi terbarukan.

Krisis iklim terjadi akibat kenaikan suhu Bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Dampaknya kian terasa dari perubahan pola cuaca global dan regional yang berlangsung makin cepat. Perubahan iklim yang dahulu memerlukan waktu jutaan tahun, kini terjadi hanya dalam beberapa dekade akibat aktivitas manusia, terutama sejak Revolusi Industri. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memandang krisis iklim sebagai salah satu tantangan paling krusial yang dihadapi manusia, karena dampaknya meluas pada ketahanan pangan, kesehatan, energi, sumber daya air, hingga perpindahan penduduk.

 

Meredam dampak berlipat El Nino 

El Nino merupakan fenomena alam berulang, yang berbagai risikonya perlu diminimalkan. Ketahanan energi merupakan salah satu hal yang penting selama periode El Nino ini karena cuaca panas meningkatkan kebutuhan pendingin ruangan baik di kantor maupun rumah-rumah. Mengingat sistem kelistrikan Indonesia yang ditopang pembangkit berskala besar, apabila terjadi gangguan akibatnya akan sangat luas, salah satunya pemadaman bergilir.

Menurut Institute for Essential Services Reform (IESR), sistem kelistrikan nasional tidak hanya perlu andal dalam kondisi normal, tetapi juga mampu  menghadapi cuaca ekstrem, krisis iklim, perubahan pola permintaan listrik, dan peningkatan bauran energi terbarukan. Indonesia perlu memetakan skenario yang diuji dalam perencanaan sistem kelistrikan nasional. Perencanaan ketenagalistrikan harus memasukkan risiko iklim, cuaca ekstrem, dan kebutuhan fleksibilitas jaringan. Oleh karena itu, pengecekan menyeluruh terhadap jaringan transmisi dan distribusi dibutuhkan sebelum masuk musim kemarau apalagi disertai El Nino.

Akhirnya, El Nino terasa makin berat karena dampaknya kini bertemu dengan tantangan sistem energi yang kompleks akibat perubahan iklim. Ketika suhu meningkat, kekeringan makin kuat, dan terjadi cuaca ekstrem, maka risiko terhadap pembangkit maupun jaringan listrik ikut membesar. Oleh karena itu, ketahanan energi tidak lagi cukup diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari, tetapi juga kesanggupan sistem mengantisipasi krisis iklim. Dampak El Nino hanya salah satunya saja.

 

Populer

Terbaru