Bagaimana Perubahan Iklim Menggerus Nutrisi di Piring Kita?

Duwi Setiya Ariyanti • Penulis

16 Oktober 2026

total-read

1

• 3 Menit membaca

Bagaimana Perubahan Iklim Menggerus Nutrisi di Piring Kita?

Image: IRRI Images/Wikimedia

 

Suhu Bumi terus merangkak naik dan menyebabkan perubahan iklim. Dari data terbaru, kenaikan suhu bumi diprediksi melampaui 1,5°C dari pra-industri dalam beberapa tahun ke depan. Kenaikan ini menggambarkan bahwa target yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris pada 2015 itu terjadi lebih cepat sehingga membawa efek rambatan yang dapat kita saksikan di potongan konten di media sosial hingga artikel di media arus utama. 

 

Artinya, risiko dan dampak terhadap kenaikan suhu tersebut akan makin parah setiap tahunnya. Cuaca ekstrem, kerugian ekosistem, dan tenggelamnya pulau-pulau kecil menjadi dampak yang perlu diantisipasi. Kerusakan parah pada kesehatan manusia, pasokan air, alam, kota-kota, infrastruktur, dan ekonomi pun akan mengikuti. 

 

Ketahanan pangan dan kelengkapan nutrisi juga akan terkena dampak perubahan iklim. Pasalnya, fenomena ini diam-diam menggerus nutrisi di piring kita, sehingga mengancam kebutuhan zat makanan yang penting untuk tubuh. 

 

Bagaimana perubahan iklim menurunkan gizi pangan?

 

Perubahan iklim bisa membawa dampak negatif terhadap tanaman pangan. Alasannya, setiap tanaman pada dasarnya membutuhkan suhu tertentu agar dapat tumbuh secara optimal. Saat perubahan suhu terjadi, tanaman tumbuh di tempat yang tidak ideal sehingga berdampak pada proses perkembangannya. 

 

Sebagai contoh, teh dan kopi bisa tumbuh di daerah pegunungan dengan suhu 13°C hingga 25°C. Sementara itu, padi membutuhkan lingkungan dengan suhu 20°C sampai dengan 33°C agar bisa tumbuh secara optimal.

 

Dampaknya, bisa berupa penurunan kualitas, yakni pada rasa, aroma, hingga umur tanaman. Dampak lainnya, yakni penurunan nutrisi karena naiknya suhu menurunkan kandungan protein dan nitrogen pada tanaman seperti kacang kedelai. Riset terbaru menunjukkan bahwa suhu tinggi menurunkan produktivitas tanaman, mengganggu penyerbukan, dan memangkas akumulasi protein pada tanaman jenis serealia seperti padi dan jagung. 

 

Tak heran bila kandungan gizi pada nasi akhirnya tergerus. Naiknya konsentrasi emisi ternyata menggerus kandungan protein sebesar 10,3%, zat besi 8%, zinc 5,1%, dan folat (Vitamin B9) 30,3%. Hal ini menjadi krusial karena nasi berkontribusi terhadap asupan kalori harian mayoritas masyarakat Indonesia.

 

Dari sisi produktivitas beras, secara keseluruhan menurun sebesar 0,5% hingga 7% dengan penurunan yang paling perlu diantisipasi, yakni di Jawa dengan proyeksi penurunan 0,5% sampai 3%. Kemudian, di Sulawesi sebesar 1% hingga 6% karena perannya sebagai lumbung padi nasional. 

 

Singkatnya, bila perubahan iklim tak ditangani, Indonesia akan menghadapi tantangan tambahan di tengah upaya untuk melawan malnutrisi, termasuk kekurangan nutrisi, defisit nutrisi mikro, stunting, dan obesitas. Secara umum, lebih dari 23 juta masyarakat Indonesia masih tak mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya dan kelompok balita tumbuh tengkes atau stunting dengan porsi 19,8%. Pada tahap ini, masalah lingkungan telah berubah menjadi masalah kesehatan dengan kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang rentan terpapar dampak paling buruk. 

 

Bagaimana solusinya?

 

Perubahan iklim sudah terjadi dan berisiko semakin parah. Dampaknya lebih dari sekadar masalah lingkungan, melainkan juga kesehatan. Alhasil, upaya penanganan perubahan iklim secara masif harus dijalankan agar tak meninggalkan dampak parah, termasuk kelompok masyarakat paling rentan. 

 

Laju perubahan iklim bisa ditekan melalui upaya menurunkan emisi karbon lewat transisi energi. Sebagai gambaran, sektor energi menyumbang emisi sebesar 829.883 kiloton ekuivalen karbon dioksida (kton CO2eq). 

 

Hal itu tecermin pada dominasi kontribusi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara terhadap bauran energi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran energi terbarukan dalam bauran energi nasional pada kuartal I/2026 mencapai 18,3%, jauh lebih rendah daripada batu bara dengan 33,44%. 

 

Oleh karena itu, upaya penyesuaian sektor pangan terhadap suhu Bumi yang berubah saja tak cukup. Kita tetap memerlukan langkah konkret untuk menekan emisi, termasuk dengan meningkatkan bauran energi terbarukan dan mengakhiri kontribusi PLTU batu bara sebanyak dan sesegera mungkin.

 

Populer

Terbaru