Efek El Nino ke Dompet Warga: Konsumsi Energi Melonjak, Tagihan Listrik Membengkak

Duwi Setiya Ariyanti Penulis

04 Juli 2026

total-read

3

5 Menit membaca

Efek El Nino ke Dompet Warga: Konsumsi Energi Melonjak, Tagihan Listrik Membengkak

Kredit: Mibernaa/Pexels

Meskipun pemerintah menjanjikan tarif listrik tak berubah, masyarakat masih dibayangi potensi makin bengkaknya tagihan listrik akibat El Nino. Kenaikan suhu akibat El Nino pada akhirnya membuat masyarakat memilih cara beradaptasi seperti meningkatkan penggunaan pendingin ruangan (AC) agar tetap produktif kala cuaca panas ekstrem terjadi. Akibatnya, konsumsi listrik naik, begitu pula dengan tagihannya. 

Fenomena El Nino yang memicu panas ekstrem terjadi secara global dan dampaknya terasa hingga Indonesia. Kemunculan El Nino bisa terlihat dari kedatangan musim kemarau yang lebih awal akibat kenaikan suhu muka laut sehingga menurunkan kecenderungan terbentuknya awan dan hujan. 

Menurunnya kecenderungan hujan inilah yang membuat membuat suhu makin panas dan kondisi makin kering saat El Nino. Tantangan lainnya terjadi apabila El Nino terjadi selama 9-12 bulan. El Nino pun bisa makin parah dengan suhu muka laut di Samudra Pasifik sebesar 2,5°C bahkan lebih dibandingkan El Nino pada umumnya sehingga disebut sebagai super El Nino atau El Nino Godzilla. 

Dalam pantauan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau makin luas dengan 83 zona musim dan akan mencapai puncaknya pada bulan ini. Mulai dari sebagian Sumatra hingga Papua bagian timur berisiko merasakan suhu maksimal akibat El Nino sekitar 35-36,1°C, lebih panas dari rata-rata cuaca musim kemarau Indonesia sekitar 33-34°C

Bagaimana hubungan El Nino dengan tagihan listrik? 

Kala suhu makin panas, tentunya kita mencari cara agar tetap dingin sehingga bisa menjalankan aktivitas. Dari sinilah El Nino membuka potensi tagihan listrik yang lebih mahal. Sebagai gambaran, akses kepemilikan AC berdasarkan rumah tangga di Tanah Air secara agregat sebesar 7,98%. Namun, Jakarta dan Kepulauan Riau memimpin dengan 30,83% dan 29,83% secara beruntun.

Di sisi lain, 24% responden dari survei Badan Pusat Statistik menyatakan sering menyalakan AC dengan suhu di bawah 24 derajat Celcius dan 47,66% responden menjawab kadang-kadang mengatur suhu ruangan pada level tersebut. 

Seiring berjalannya waktu, kecenderungan masyarakat menggunakan AC dan menurunkan suhu ruangan bakal makin tinggi saat suhu luar ruangan makin panas. Perhitungan kenaikan tagihan pun muncul dari kenaikan penggunaan AC. Sederhananya, dengan tarif listrik Rp1.444,7 per kWh pada kelompok pelanggan 1.300 dan 2.200 VA, tambahan tagihan listrik bulanan bisa naik mulai dari Rp138.691 dengan asumsi penggunaan AC 1 PK, yakni dengan daya maksimal 800 watt selama 4 jam. 

Tambahan tagihan listrik makin tinggi sejalan dengan durasi penggunaan AC. Perkiraan tambahan biaya dengan penggunaan hingga 10 jam, yakni mencapai Rp346.728 per bulan. Adapun, tambahan biaya listrik dari penggunaan tambahan 0,5 PK selama 4 jam mencapai Rp69.345 hingga Rp173.364 selama 10 jam. 

Peningkatan penggunaan AC menjadi tak terelakkan saat suhu makin panas. Terlebih, El Nino bakal berdampak paling parah pada beberapa wilayah, yakni Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.  

Rantai masalah AC dan perubahan iklim

Adapun, tren penggunaan AC akibat naiknya suhu bakal terus berlanjut. Hal ini tecermin pada tren global. Pada 2050, menurut studi dari Zhang dkk, jumlah AC yang digunakan di dunia bisa mencapai 2,3 miliar unit Pemakaian AC bisa mencapai 3,1 miliar unit bila didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kokoh dan makin parahnya efek pemanasan global. 

Dari situ, konsumsi energi dari penggunaan AC setidaknya naik 135,7% pada 2050 daripada kondisi tahun 2010. Kontribusi penggunaan AC terhadap total konsumsi energi secara global di sektor bangunan pada 2050 pun sebesar 8% atau setara dengan 4.493 TWh. 

Di tengah potensi kenaikan penggunaan AC, emisi yang dihasilkan ternyata berasal dari sumber energi pembangkit listriknya. Emisi gas rumah kaca dari penggunaan AC secara global diperkirakan menyentuh 3,8 gigaton setara CO2 (GtCO2eq) in 2050, naik hampir tiga kali dari kondisi pada 2010 sebesar 1,3 GtCO2eq. Artinya, penggunaan AC akibat kenaikan suhu yang berasal dari perubahan iklim justru menjadi upaya adaptasi yang berisiko karena memicu kenaikan emisi yang ujungnya memperparah perubahan iklim. Perkiraan dampaknya terhadap kenaikan suhu global secara rata-rata pada 2050 sebesar 0,03-0,07°C. 

Apa yang bisa kita lakukan?

Memantau perkembangan El Nino dan dampaknya melalui sumber tepercaya menjadi penting karena tidak menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan berlebihan. Pada kondisi ini, masyarakat bisa mendapatkan penjelasan lengkap sesuai kondisi daerah dan pendekatan secara teknis untuk menyikapi kondisi panas ekstrem. 

Solusi lain yang bisa diterapkan, yakni menambah penghijauan di area terbuka dan tertutup untuk menciptakan efek dingin di dalam ruangan. Atap hijau, misalnya bisa menurunkan penggunaan energi sebesar 33% karena tak perlu menggunakan AC. Sistem gedung hijau pun bisa menurunkan efek panas di daratan dengan penurunan sebesar 2 derajat Celcius melalui penggunaan atap hijau. Penggunaan atap hijau dan dinding hijau (dari tanaman) yang berasal dari ganggang, rumput, hingga tanaman hijau lainnya yang bisa meredam efek suhu panas. 

Lebih dari itu, penggunaan prinsip bangunan hijau secara menyeluruh: mulai dari penerangan hingga ventilasi, bisa menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 62% dibandingkan dengan bangunan konvensional. 

 

Penggunaan sumber energi terbarukan seperti panel surya bisa turut menjadi pilihan untuk mengurangi tagihan listrik dan mengamankan risiko pemadaman listrik bergilir. Apalagi, pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bisa terganggu selama El Nino dan bisa berujung pada pemadaman listrik bergilir kala konsumsi listrik naik akibat penggunaan AC. 

Pertimbangan ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk kembali mendorong penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap sehingga masyarakat memiliki pilihan lebih baik saat terjadi El Nino.

Populer

Terbaru