Ironi Tren ‘Pelari Kalcer’ di Tengah Kota Panas dan Berpolusi

Bram Setiawan Penulis

25 Juli 2026

total-read

0

5 Menit membaca

Ironi Tren ‘Pelari Kalcer’ di Tengah Kota Panas dan Berpolusi

Image: Infineos/Wikimedia Commons

Olahraga lari makin diminati sebagai salah satu tren gaya hidup. Berbagai ajang dan komunitas lari pun bermunculan di Indonesia. Tren ‘pelari kalcer’ berkembang seiring munculnya berbagai ajang lari di kota-kota Tanah Air. Pada pekan pertama Agustus mendatang, misalnya, belasan acara lari akan diadakan di sejumlah kota, yaitu Bandung, Batu, Bogor, Denpasar, Jakarta, Semarang, Solo, Surabaya, dan Tangerang.

Berbagai ajang lari pada akhir pekan tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap olahraga ini terus meningkat dan menjangkau makin banyak daerah. Namun, minat berolahraga di luar ruangan ini dibayangi tekanan cuaca panas. Sebagian kota penyelenggara ajang lari tersebut tercantum dalam basis data mengenai wilayah dengan panas lembap yang berbahaya (dangerous humid heat).

Kota kota panas

Menurut Climate Central, ada lima kota di Indonesia yang tercatat memiliki hari-hari panas lembap yang berbahaya (dangerous humid heat days). Kelimanya adalah Bogor, Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Tangerang. 

Jumlah hari panas lembap tertinggi yang tercatat dalam data tersebut adalah Surabaya, yakni 313 hari selama periode 2016–2025. Sementara Jakarta dan Tangerang masing-masing 290 hari, sedangkan Semarang mencapai 266 hari. Bogor tercatat 70 hari.

Sebenarnya Bandung juga masuk dalam basis data Climate Central. Namun, kota ini tercatat masih memiliki nol hari yang melampaui ambang batas suhu panas lembap yang digunakan oleh Climate Central selama periode 2016–2025. 

Climate Central menjelaskan, panas lembap yang berbahaya adalah hari ketika suhu wet-bulb maksimum harian mencapai 25 derajat Celsius atau lebih dari itu.  Suhu wet-bulb merupakan ukuran yang menggabungkan panas dan kelembapan. Dalam laporan Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change ambang 25°C digunakan untuk mengidentifikasi kondisi yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas. Tingkat kelembapan yang tinggi menghambat penguapan keringat sebagai mekanisme utama tubuh untuk melepaskan panas, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, hingga heat stroke.

Sementara itu, riset memaparkan berlari dalam kondisi suhu tinggi dan lembap meningkatkan tantangan bagi pelari karena dapat memengaruhi kesehatan dan performa. Paparan suhu tinggi saat berlari dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan pelari, bahkan dalam kondisi tertentu berisiko menyebabkan serangan panas (heat stroke). Salah satu contohnya, peserta Jakarta International Marathon (Jakim), Agus Putranadi, pada Minggu, 14 Juni 2026. Agus meninggal setelah komplikasi heat stroke. Dokter mengatakan, henti jantung terjadi sebagai dampak dari kondisi komplikasi tersebut, setelah Agus menjalani perawatan di rumah sakit. 

Risiko kesehatan juga semakin membayangi pelari karena tahun ini Bumi periode El Nino, fenomena anomali iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat daripada kondisi biasanya. Puncak dampak El Nino di Indonesia pada periode Juni hingga November, yang bersamaan dengan musim kemarau. 

Ironi gaya hidup sehat tapi lingkungannya kotor

Semakin tingginya suhu panas yang berbahaya di kota justru paradoks di tengah kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan raga maupun mental yang meningkat. Pemerintah semestinya menangkap tren kesadaran yang membaik ini dengan semakin agresif membenahi sumber-sumber panas dan polusi di perkotaan.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi panas kota? Yang terdekat dan sangat mungkin dilakukan otoritas adalah menambah lebih banyak ruang hijau atau penanaman pohon. Berdasarkan banyak studi, pohon dapat menjadi penurun suhu kota alami di tengah beton dan aspal yang menutupi banyak permukaan kota. 

Adapun solusi lainnya adalah pengurangan polusi kendaraan bermotor yang saat ini cukup signifikan dampaknya bagi pencemaran udara di perkotaan. Pemerintah perlu lebih serius menggenjot elektrifikasi kendaraan dan memperbanyak transportasi umum.

Dalam skala yang lebih luas, peningkatan panas lembap yang berbahaya ini juga berhubungan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia menggunakan energi fosil. Sektor energi merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca yang memperburuk krisis iklim.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyoroti perubahan iklim terus berlangsung di tengah gas rumah kaca yang meningkat. Menurut Laporan Keadaan Iklim Global WMO 2025, periode 2015-2025 merupakan deretan tahun terpanas yang pernah tercatat. Pada 2025, suhu global tercatat 1,43 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan periode praindustri (1850–1900).

Oleh karena itu, transisi energi pun makin mendesak untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim. Apalagi, negara-negara sudah bersepakat dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement) untuk menahan pemanasan global agar kenaikan suhu rata-rata Bumi tidak melebihi 1,5°C.

Saat ini, di Asia Tenggara, penggunaan energi fosil masih dominan. Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 menjelaskan, emisi sektor energi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih tinggi karena ketergantungan terhadap konsumsi energi fosil. Indonesia berkontribusi hampir 90% terhadap produksi batu bara di Asia Tenggara. Padahal, penggunaan batu bara membawa risiko emisi dengan tingkat polusi udara yang tinggi, diperkirakan menyebabkan 330.000 kematian dini pada 2024

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kapasitas terpasang pembangkit per April 2026 mencapai 108 Gigawatt (GW).  Pembangkit listrik berbasis energi fosil mencapai 91,58 GW atau sekitar 85% dari total kapasitas terpasang ini dengan rincian batu bara 56%, gas 23%, dan bahan bakar minyak (BBM) 6%.  Dari total kapasitas terpasang, sekitar 73% atau 79,05 GW porsi wilayah usaha PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero). Adapun porsi pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT) per April 2026 hanya 15% atau sebesar 16,26 GW.

Dari keseluruhan data tersebut secara gamblang memperlihatkan minimnya pemanfaatan energi terbarukan. Apabila tak ada transformasi kebijakan yang benar-benar mendukung pengakhiran energi fosil, sulit berharap percepatan transisi menuju energi terbarukan. 

Membiarkan ketergantungan menggunakan energi fosil sebetulnya sama saja mempercepat krisis iklim dan emisinya sangat berbahaya untuk kehidupan manusia. Selama bahan bakar fosil masih mendominasi sistem energi, upaya mengurangi risiko perubahan iklim masih jauh dari target nol emisi karbon (NZE). Dengan begitu, ancaman gangguan kesehatan masih membayangi berbagai kegiatan manusia, termasuk pada olahraga lari.

Populer

Terbaru