Melihat Masyarakat Adat Berdaya dengan Energi Terbarukan

Bram Setiawan Penulis

09 Agustus 2026

total-read

1

6 Menit membaca

Melihat Masyarakat Adat Berdaya dengan Energi Terbarukan

Image: Peterthoeny/Flickr

Momentum Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap 9 Agustus mengingatkan pentingnya pengakuan terhadap hak mereka, termasuk keterlibatan dalam pengambilan keputusan atas pengelolaan sumber daya alam dan pemanfaatan energi di wilayahnya. Dalam penyediaan listrik, misalnya, masyarakat adat di berbagai dunia kerap kesulitan mendapatkan setrum karena minimnya penyediaan energi di daerah terpencil. Di lain pihak, ruang hidup mereka kerap menjadi rebutan negara maupun korporasi dalam proyek energi.

Di berbagai negara, ada beberapa masyarakat adat yang membangun dan mengelola sistem energi terbarukan dengan pengetahuan mereka terhadap wilayah, dan sumber daya lokal. Masyarakat adat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mengambil keputusan dan pengelolaan sistem energi. 

 

1. Tenaga Air di Kasepuhan Gelaralam, Indonesia

Pemanfaatan energi terbarukan tak hanya masalah penyediaan listrik. Namun, juga pengakuan terhadap hak masyarakat adat untuk menentukan cara mendapatkan listrik sesuai kebutuhan dan lingkungan.

Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, warga Kasepuhan Gelaralam, dahulu dikenal bernama Ciptagelar, memenuhi kebutuhan energi dengan memanfaatkan aliran sungai di kawasan pegunungan melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMh). Karena kawasan ini sulit terjangkau jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN), sehingga masyarakat mengembangkan PLTMh pada 1997.

Sebetulnya, pemanfaatan energi mikrohidro sudah dirintis di Kampung Ciptarasa pada 1988 oleh Encup Sucipta alias Abah Anom, pemimpin adat pada masa itu. Kala itu mikrohidro masih menggunakan kincir kayu, yang mampu membangkitkan listrik untuk dialirkan ke puluhan rumah warga. Namun, proyek itu tak berkesinambungan sampai akhirnya mangkrak bertahun-tahun. Pada 1997, instalasi PLTMh yang cukup mumpuni terpasang setelah mendapat sokongan dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Pengembangan energi di Kasepuhan Gelaralam beriringan dengan aturan adat mengenai perlindungan hutan, tata guna lahan, dan pemanfaatan sumber daya alam. Menjaga hutan bagi warga Kasepuhan Gelaralam berarti sekaligus menjaga keberlangsungan pasokan air untuk pembangkit listrik.

Kini, Kasepuhan Gelaralam telah memiliki empat pembangkit tenaga air, yaitu PLTMh Cibadak, Ciganas, Cipulus, dan Situ Murni. PLTMH Cibadak menyokong 212 rumah di Ciptagelar, Suka Mulya, dan Lebak Manggu, Adapun Ciganas menerangi 100 rumah di Kampung Ciptarasa, Cisigung, dan Sirnarasa. Cipulus mengalirkan setrum ke 124 rumah di pusat Kasepuhan Gelaralam dan Lebak Hariang. Listrik yang bersumber dari Situmurni telah menjangkau 191 rumah di Cipulus dan Cikuluwung.

Pengelolaan energi berbasis komunitas ini pun tak lepas dari tantangan. Longsor di sekitar bendungan menghambat aliran air ke PLTMh. Pada 2018, turbin yang berada di wilayah Sukamulya rusak akibat tersambar petir. Begitu juga pada 2016, ketika dua PLTMh juga sempat rusak. Beban biaya pun akhirnya menjadi tanggungan yang dipikul oleh warga setempat.

Rentetan masalah yang terus ingin diselesaikan supaya tetap memakai energi terbarukan ini memperlihatkan upaya warga menjaga kemandirian untuk memproduksi listrik. Sebab, pemanfaatan pembangkit mikrohidro juga menjadi upaya warga menghormati air sebagai sumber kehidupan. Oleh karena itu, cara mendapatkan listrik dari pembangkit mikrohidro berhubungan dengan menjaga hutan dan mata air di sekitarnya.

 

2. Perahu surya orang Achuar, Ekuador

Di kawasan Amazon, masyarakat adat juga berinisiatif mengembangkan perahu atau kano bertenaga surya, salah satunya orang-orang Achuar di Ekuador.

Pemanfaatan perahu bertenaga surya ini memang diminati karena mengurangi biaya bahan bakar, polusi, dan kebisingan. Perahu bisa menjadi pilihan yang minim risiko untuk menghindari pembangunan jalan yang selama ini menjadi biang keladi deforestasi di hutan Amazon. Oleh karena itu, pengembangan teknologi ini dirancang agar masyarakat adat memiliki kapasitas untuk mengelola dan menjalankan sistem energi surya secara mandiri.

Tapiatpia, perahu surya pertama, dirancang sampai pembuatan berlangsung pada 2014–2016. Perahu ini tiba di wilayah tempat tinggal orang-orang Achuar pada 2017. Perahu ini dicoba untuk menempuh perjalanan sekitar 1.800 kilometer.

Penggunaan perahu surya ini makin mendesak ketika pasokan bensin ke kawasan permukiman Achuar terhenti akibat pembatasan selama pandemi Covid-19 pada 2020. Pengalaman ini akhirnya memperkuat model rancangan untuk kapasitas lokal supaya masyarakat dapat mengendalikan teknologi surya ini dalam komunitasnya.

Sejak itu, Kara Solar, project dari organisasi Latin American Association for Alternative Development (ALDEA) mengirimkan 12 perahu bertenaga surya ke kawasan masyarakat adat di lima negara, enam di Ekuador, masing-masing dua di Peru dan Brasil, serta masing-masing satu di Suriname dan Kepulauan Solomon. Ada juga upaya untuk menyediakan pengisian daya. Pengembangan teknologi ini membantu memperkuat kemandirian energi masyarakat adat sekaligus mendukung upaya menjaga hutan Amazon.

 

3. Irigasi surya masyarakat Adivasi, India 

Di pelosok Maharashtra, India, masyarakat adat Adivasi di wilayah Mokhada dan Jawhar, Distrik Palghar, menghadapi krisis air bersih tahunan. Krisis yang terjadi setiap Januari ini memaksa para perempuan berjalan kaki hingga 40 kilometer sehari hanya untuk mengambil air. Tanpa akses jaringan listrik negara, ketiadaan air mengikat waktu dan tenaga mereka dalam rantai kemiskinan. 

Guna mengatasi masalah ini, sejak beberapa tahun terakhir masyarakat Adivasi berkolaborasi dengan LSM lokal AROEHAN dan organisasi Prayas. Kolaborasi ini melahirkan inovasi berupa sistem penyediaan air bersih dan irigasi berbasis pompa tenaga surya.  

Melalui inisiatif ini, panel surya dipasang untuk memompa air dari sumur ke tangki penampungan desa. Lengkap dengan filter berbasis sifon, sistem ini menyalurkan air bersih langsung ke pemukiman warga. Bebas dari kebergantungan bahan bakar dan listrik korporasi, teknologi ramah lingkungan ini berbiaya perawatan rendah dan sangat tahan lama.  

Inisiatif warga ini terbukti membebaskan lebih dari 11 ribu warga di 38 desa dari krisis air dan penyakit menular. Bagi para perempuan, air di dekat rumah memberikan "revolusi" kecil; mereka lebih mempunyai banyak waktu untuk mendampingi pendidikan anak serta memproduksi kerajinan tangan guna menambah penghasilan keluarga. Tak hanya itu, sistem irigasi berbasis energi surya di 21 dusun kini memungkinkan 464 petani bercocok tanam hingga tiga kali setahun dan meningkatkan pendapatan secara signifikan.

 

Kemandirian Energi Masyarakat Adat

Kebijakan energi yang masih didominasi proyek-proyek berskala besar perlu diimbangi dengan pengembangan berbasis komunitas. Dari berbagai kisah masyarakat adat tersebut, transisi energi dapat tumbuh dari komunitas atau desentralisasi ketika masyarakat diberi ruang mengelola wilayah, pengetahuan, dan sumber dayanya. Oleh karena itu, pendekatan perencanaan sistem kelistrikan yang mengarah pada proyek berskala besar perlu dipertimbangkan secara cermat.

Pemerintah juga harus mendukung upaya masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri dan berkesinambungan. Apalagi jika mengingat pengembangan proyek energi berskala besar rentan menghadapi berbagai risiko sosial, persoalan lahan, dan gangguan terhadap keanekaragaman hayati.

Pengembangan energi terbarukan pun tidak cukup dipahami sebagai pembangunan prasarana. Keterlibatan masyarakat adat juga menyeluruh dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan. Tantangannya bukan hanya menyediakan sumber energi, melainkan keberlanjutan pembiayaannya perlu diarahkan untuk mengurangi ketimpangan. Dengan begitu, kapasitas kelokalan bisa diperkuat dan menjangkau kelompok yang selama ini sulit memperoleh akses untuk pemanfaatan energi.

 

Populer

Terbaru