Mengenal BESS: Mengapa Penting untuk Transisi Energi?

Bram Setiawan Penulis

17 April 2026

total-read

6

4 Menit membaca

Mengenal BESS: Mengapa Penting untuk Transisi Energi?

Kredit foto: Hanhwa

Battery energy storage system (BESS) atau sistem baterai penyimpanan energi sangat penting untuk menopang transisi energi terbarukan. BESS memungkinkan kita menyimpan kelebihan energi dari listrik tenaga surya dan angin, lalu menyalurkannya kembali saat permintaan meningkat atau produksi menurun. Kegunaan ini untuk menjaga keseimbangan sistem, mengurangi pemborosan energi, dan meningkatkan keandalan jaringan listrik.

Di Rwanda, misalnya, proyek Bugesera senilai US$187 juta menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 60 Megawatt (MW) dengan BESS 60 Megawatt-hour (MWh). Di Mesir, International Finance Corporation (IFC) membiayai sistem baterai berkapasitas sekitar 300 MWh yang terhubung dengan taman panel surya Kom Ombo berkapasitas sekitar 500 MW.

Laporan Institute for Essential Services Reform (IESR), BESS punya peluang besar di Indonesia, seiring rencana Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 untuk mengembangkan BESS hingga berkapasitas 4,3 GW. Seiring dengan harga BESS yang terjangkau, kapasitas yang dibangun sebenarnya bisa lebih besar, terutama jika para pengguna PLTS atap mulai memasang teknologi penyimpanan energi listrik ini. Kombinasi PLTS dan BESS bisa membuat harga yang kompetitif dengan listrik dari PLN.

Indonesia bisa memanfaatkan momentum harga baterai yang rendah saat ini untuk mendorong pengembangan, antara lain mempercepat realisasi proyek BESS jangka pendek, memperkuat industri hilir seperti manufaktur komponen balance of system (BoS) dan layanan engineering, procurement, and construction (EPC), serta meningkatkan permintaan dari pengguna akhir. Pada 2024, harga sel baterai global turun hampir 30% dibandingkan 2023. Angka ini menunjukkan penurunan besar dalam satu dekade. Di pasar penyimpanan energi sistem kelistrikan, biaya BESS juga turun sekitar USD 165/kWh, yang mendorong angka penambahan kapasitas global tahunan sebesar 169 GWh.

Tren ini didorong oleh kelebihan kapasitas produksi baterai lithium-ion (LIB) yang mencapai 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan permintaan tahunan. Begitu juga rendahnya harga bahan baku pada 2024. Namun demikian, harga LIB berpotensi kembali meningkat dalam beberapa tahun mendatang akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif terhadap logam baterai.

Prospek BESS juga bisa diamati dari rencana pemerintah yang akan membangun PLTS berkapasitas 100 GW. Program ini merencanakan pembangunan 80 GW PLTS dan 320 GWh BESS, yang akan dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih di 80 ribu desa, dan 20 GW PLTS terpusat.

Apa Itu BESS?

Sistem BESS menjadi sangat dibutuhkan karena transisi energi membutuhkan penambahan kapasitas energi surya dan angin dalam jumlah besar. Tanpa BESS, besarnya kapasitas dua energi tersebut justru berisiko mengganggu jaringan listrik berskala besar: bisa berdampak ke pemadaman massal.

Sementara dalam sistem listrik berskala menengah ataupun kecil, skala BESS bisa menjadi bagian dari distributed energy resources (DERs), terutama ketika ditempatkan dekat dengan lokasi konsumsi energi, seperti bangunan hunian, komersial, maupun industri. BESS juga mendukung mekanisme demand side management (DSM), dengan merespons sinyal permintaan maupun harga energi secara otomatis, sehingga berkontribusi terhadap pengelolaan konsumsi listrik yang tepat dan stabil.

Menurut The Rise of Solar PV and Battery Storage’s Prominence in Emerging Markets (2025), selama lima tahun belakangan, penggabungan panel surya dengan BESS menuju inti strategi transisi energi. Penurunan harga paket baterai yang cepat, sebesar 93% sejak 2010 mencapai USD 192/kWh untuk sistem skala kegunaan pada 2024, telah mengubah pandangan mengenai tenaga surya yang andal sepenuhnya adalah produk khusus. Pemanfaatan gabungan panel surya dan BESS bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai sumber kapasitas listrik tetap yang dapat diandalkan, seperti untuk menggantikan diesel, pembangkit listrik termal, dan menguatkan jaringan listrik yang lemah.

Rwanda maupun Mesir tak sekadar contoh sistem baterai kecil standar, seperti 0,5–1 MW BESS untuk setiap 5 MW kapasitas PLTS terpasang, yang hanya berfungsi untuk menutup ketidakstabilan siang hari. Tetapi, proyek tersebut menandakan upaya konkret untuk penyimpanan daya sebagai bagian dari pemanfaatan energi terbarukan berskala besar di negara berkembang.

BESS untuk transisi energi

Laporan IESR (2025) menunjukkan, sistem kelistrikan juga bisa mengandalkan kombinasi BESS dengan interkoneksi jaringan serta pembangkit energi terbarukan.

Oleh karena itu, BESS perlu diintegrasikan sejak tahap perencanaan sistem tenaga listrik, bukan sekadar ditambahkan setelah pembangunan pembangkit. Perencanaan ini mencakup penentuan lokasi optimal, kapasitas penyimpanan, dan strategi operasi yang sesuai dengan karakteristik jaringan listrik. 

Perkembangan teknologi juga mendorong peningkatan kinerja BESS melalui sistem kontrol berbasis digital. Integrasi antara sistem pengelolaan energi atau energy management system (EMS) dan pengaturan baterai, yakni battery management system (BMS) membuat BESS merespons kondisi jaringan listrik secara dinamis. 

Adapun sistem ini dapat mengatur pengisian dan pengosongan baterai secara otomatis untuk menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan listrik. Dengan sistem kontrol semacam ini, BESS berguna untuk berbagai layanan tambahan seperti pengaturan frekuensi, cadangan daya, dan pengurangan beban puncak. Kemampuan ini menjadikan BESS, bukan hanya sebagai penyimpan energi pasif.

Di Indonesia, percepatan adopsi BESS tergantung komitmen kebijakan perencanaan sistem yang berfokus mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil. Program yang mendorong pemanfaatan BESS juga menjadi penting, karena untuk mencapai kemandirian energi nasional. Secara bersamaan, penggantian pembangkit listrik berbasis bahan bakar minyak dengan PLTS dan BESS akan mempercepat transisi dari sumber fosil menjadi energi terbarukan.

Populer

Terbaru