Mengenali Mineral Kritis di Indonesia
Bram Setiawan • Penulis
02 September 2026
12
• 6 Menit membaca

Pengembangan energi bersih membutuhkan mineral kritis, yang digunakan antara lain dalam baterai, jaringan kelistrikan, dan kendaraan listrik. Pemerintah Indonesia menetapkan golongan mineral kritis melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023, yang memuat 47 mineral kritis.
Dari daftar tersebut, nikel, mangan, tembaga, serta aluminium, yang komoditas tambangnya adalah bauksit, berkaitan dengan teknologi energi bersih. Nikel dan mangan, misalnya, digunakan dalam teknologi baterai, termasuk untuk kendaraan listrik. Begitu juga tembaga, yang dibutuhkan dalam berbagai teknologi kelistrikan. Adapun bauksit merupakan sumber untuk menghasilkan aluminium.
1. Nikel
Di Indonesia, nikel tergolong mineral kritis yang paling disorot, karena cadangannya yang besar. Sebagian kendaraan listrik membutuhkan nikel sebagai salah satu bahan dalam baterai. Adapun baterai litium dengan kandungan nikel yang tinggi dapat menyimpan lebih banyak energi. Nikel juga merupakan logam yang banyak digunakan dalam berbagai produk, termasuk baja tahan karat.
Menurut laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), sebanyak 83% produksi nikel Indonesia pada 2025 justru diserap oleh sektor baja tahan karat (stainless steel)—bahan baku untuk produk sehari-hari seperti sekrup, wajan, dan sebagainya. Jenis baja ini ternyata juga disalurkan untuk kendaraan yang masih menggunakan energi fosil. Angka ini memperlihatkan, nikel yang ditambang di Indonesia belum sepenuhnya menyokong masa depan energi yang bersih.
Salah satu polemik nikel di balik agenda transisi energi ini masalah lingkungan kian besar akibat penambangan. Industri nikel juga dikaitkan dengan penurunan kualitas air, tanah, dan udara, antara lain di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Di Sulawesi Tengah, Morowali dan Morowali Utara, polusi udara akibat debu logam dan emisi tinggi dari aktivitas pembangkit listrik serta smelter nikel, diduga berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang diderita masyarakat di sana.
Perluasan tambang nikel dan proyek strategis nasional (PSN) di Sulawesi Tenggara justru mempersempit ruang hidup masyarakat. Di wilayah pesisir Pomalaa, Selat Tiworo, dan Kabaena terjadi pengendapan (sedimentasi) dan pencemaran laut yang membuat ikan menjauh dari pantai. Biaya operasional nelayan meningkat dan kesejahteraan mereka merosot.
Di Maluku Utara, dampak pertambangan nikel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, selain kerusakan lingkungan, ancaman kesehatan, hingga tekanan sosial dan ekonomi, masyarakat yang kehilangan ruang hidup pun menghadapi intimidasi setelah menyuarakan penolakan.
2. Bauksit
Bauksit merupakan bijih utama aluminium yang terbentuk dari campuran mineral, terutama gibsit, boehmit, dan diaspor. Ketiganya merupakan mineral yang mengandung aluminium dengan komposisi kimia berbeda. Selain mineral aluminium, bauksit juga mengandung mineral lain, seperti oksida besi, silika, dan titanium. Komposisi tersebut berbeda antarendapan bauksit. Perbedaan komposisi mineral juga memengaruhi tampilan bauksit, termasuk warnanya seperti kuning kecokelatan hingga merah.
Bauksit sangat melimpah di Kalimantan Barat. Sumber daya bijih bauksit di sana sekitar 5,99 miliar ton pada Desember 2024, menurut data Badan Geologi, Kementerian ESDM. Angka tersebut merupakan berat bijih bauksit, bukan kandungan aluminium. Bauksit masih harus diolah untuk menghasilkan alumina, kemudian aluminium.
Aluminium dari bauksit dapat digunakan untuk peralatan mesin, kelistrikan, bahan untuk kemasan, barang tahan lama. Paling banyak, aluminium digunakan untuk bahan bangunan dan transportasi. Aluminium pun material penting dalam teknologi transisi energi, karena ringan, tahan korosi, dan bisa didaur ulang. Dalam satu fasilitas panel surya berkapasitas 1 Megawatt (MW) dibutuhkan sekitar 21 ton aluminium untuk kerangka dan sistem pemasangan. Aluminium juga berguna untuk produksi turbin angin. Kendaraan listrik menggunakan aluminium dalam baterai dan komponen bodi, yang porsinya dapat mencapai 30% dari bobot gabungan tersebut.
Besarnya penambangan bauksit di Kalimantan Barat juga memengaruhi masalah lingkungan di sana. Sebab, sebagian besar konsesi tambang bauksit berada di daerah aliran sungai (DAS), sub-DAS dan DAS Kapuas, yang merupakan wilayah penyangga kehidupan masyarakat setempat.
3. Tembaga
Tembaga adalah logam yang dibutuhkan untuk kabel dan berbagai perangkat kelistrikan. Banyak kegunaan tembaga dalam berbagai kebutuhan industri dan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan tembaga pun meningkat seiring agenda elektrifikasi.
Penggunaan tembaga untuk kendaraan listrik jauh lebih besar daripada mobil yang memanfaatkan energi fosil. Kendaraan listrik membutuhkan tembaga sekitar empat hingga lima kali lebih banyak, mulai dari motor penggerak, sistem pengisian daya, hingga jaringan kabel di dalam baterai.
Di balik meningkatnya kebutuhan tembaga, ekspansi industri tambang dan pengolahannya juga memunculkan persoalan dengan masyarakat setempat. Salah satunya, yang terbaru di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga Dusun Otak Keris, Desa Maluk, yang dekat dengan smelter, tersisih karena tempat mereka menjadi pabrik pengolahan tembaga dan emas. Belum lagi tambang tembaga milik PT Freeport Indonesia di Papua Tengah yang sempat menjadi sorotan karena limbahnya diduga mencemari lingkungan.
4. Mangan
Mangan adalah unsur logam berwarna perak, salah satu bahan penting dalam pembuatan baja karena membantu meningkatkan kekuatan dan ketahanannya. Lebih dari 85% penggunaan mangan global terkait dengan pembuatan baja. Mangan juga digunakan dalam beberapa jenis baterai kendaraan listrik. Oleh karena itu, penggunaannya dalam teknologi baterai menjadikan mangan salah satu mineral yang penting bagi perkembangan penyimpanan energi.
Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki lebih dari 70% dari cadangan mangan nasional, menurut laporan Kementerian ESDM pada 2017. Kabupaten Manggarai di Flores merupakan salah satu wilayah utama yang memiliki endapan mangan.
Polemik penambangan mangan pun baru-baru ini muncul, karena perusahaan tambang lama yang akan beroperasi lagi di sana. Perusahaan ini mendapat izin operasi produksi seluas 77,43 hektare. Perusahaan ini sebenarnya sempat vakum setelah mendapat penolakan dari masyarakat. Sebab, dampak pertambangan mangan pada masa lampau merusak hutan dan tanah, juga mencemari darat, udara, sungai, dan laut.
Mineral Kritis dalam Transisi Energi
Tak dimungkiri, pengembangan energi terbarukan justru berjalan dengan gaya lama jika melihat dampak dari rantai pasoknya. Akhirnya, yang terjadi pengerukan dan ekstraksi bahan baku sebanyak-banyaknya. Proses Indonesia untuk berkontribusi dalam rantai pasok mineral kritis akhirnya berdampak pada kerusakan ekologis dan masalah sosial.
Indonesia yang memiliki potensi mineral sedang menjadi sasaran industri energi terbarukan. Oleh karena itu, perlu upaya yang tidak itu-itu saja, salah satunya dengan mempertimbangkan urban mining, yakni memanfaatkan kembali logam limbah perkotaan. Caranya bisa dilakukan dengan daur ulang sampah elektronik untuk mengurangi tekanan pembukaan tambang baru.
Transisi energi juga memastikan manfaat ekonomi dari mineral tidak hanya terpusat pada industri. Berbagai masalah yang menimpa masyarakat di daerah penghasil memperlihatkan bahwa perkembangan industri dari tambang mineral kritis belum mengangkat kesejahteraan mereka. Kondisi ini menunjukkan tidak ada keadilan yang diterima masyarakat setempat dari kekayaan mineral, salah satunya nilai ekonomi yang mengalir ke luar daerah.
Deretan masalah lingkungan dan gangguan kesehatan juga menjadi gambaran mendatang, yang apabila tidak dibenahi akan ditanggung oleh generasi selanjutnya. Kondisi semacam ini menunjukkan pentingnya manfaat yang merata. Sebab, transisi energi perlu mengutamakan keadilan antargenerasi. Yang terjadi sekarang, manfaat mineral dibayar dengan hilangnya ruang hidup dan kualitas lingkungan untuk generasi berikutnya di daerah penghasil.

