Panas Kian Menyengat Saat Polusi Bertemu El Nino
Bram Setiawan • Penulis
29 Juli 2026
2
• 5 Menit membaca

Kualitas udara Indonesia masih termasuk yang terburuk di Asia Tenggara. Laporan IQAir World Air Quality Report 2025 menunjukkan, rata-rata kadar partikel halus 2,5 mikron (PM2,5) di udara Indonesia mencapai sekitar 30 mikrogram per meter kubik pada 2025. Angka ini sekitar enam kali melampaui pedoman Organisasi Kesehatan Dunia dalam WHO Air Quality Guidelines, yakni sebesar 5 mikrogram per meter kubik.
Tangerang Selatan tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk yang tercatat di Indonesia pada 2025. Namun, kondisi itu tidak selalu terjadi di kota yang sama. Menurut pemantauan real-time IQAir, kota-kota dengan udara paling kotor bisa berubah sewaktu-waktu. Pada saat tertentu, Tangerang, Jakarta, Surabaya, Palembang, Pontianak, dan Bandung juga masuk dalam daftar tersebut.
Dengan kadar PM 2,5 setinggi itu, masyarakat di berbagai kota menghirup udara yang tercemar, sehingga berisiko bagi kesehatan. Bank Dunia memperkirakan polusi udara bisa menyebabkan kerugian ekonomi yang setara dengan sekitar 5% dari produk domestik bruto (PDB) global akibat dampaknya terhadap kesehatan, penurunan produktivitas, dan berkurangnya harapan hidup.
Kondisi ini bisa makin memburuk ketika musim kemarau bertepatan dengan fenomena El Nino. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino memperkuat kondisi musim kemarau sehingga cuaca menjadi lebih kering di berbagai wilayah Indonesia.
Tetapi, cuaca yang kian panas bukan semata-mata dipengaruhi El Nino. Krisis iklim yang terjadi akibat aktivitas manusia dari asap-asap pabrik, kendaraan, ataupun pembakaran batu bara juga membuat suhu rata-rata harian lebih panas. Pada akhirnya, kedua hal ini sama-sama memperburuk kualitas udara melalui polutan yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
Energi fosil masih andalan
Energi fosil masih mendominasi sistem energi di Indonesia. Pembakarannya menjadi salah satu sumber utama pencemaran udara.
Belum lagi, pertumbuhan ekonomi dan populasi membuat permintaan energi meningkat pesat dan kebutuhan tersebut masih dipenuhi oleh energi fosil. Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara per April 2026 mencapai 60,53 Gigawatt (GW), menurut laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, masih tercatat 6,3 GW kapasitas PLTU batu bara dalam daftar pengembangan. Sebagian besar proyek tersebut telah masuk pipeline atau daftar proyek yang telah direncanakan sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,2 GW kapasitas PLTU yang dibangun oleh pengembang listrik swasta (IPP) dan PLN telah mencapai operasi komersial pada 2025. Sisanya, 3,1 GW masih dalam tahap konstruksi.
Penggunaan batu bara membawa risiko besar. Tingginya polusi udara yang ditimbulkannya diperkirakan menjadi salah satu penyebab sekitar 330 ribu kematian dini di Asia Tenggara pada 2024. Laporan State of Global Air 2024 memperkirakan polusi udara berkaitan dengan sekitar 221.600 kematian di Indonesia pada 2021.
Selain menyebabkan pencemaran udara, emisi yang dihasilkan pun tidak sejalan dengan target iklim menahan laju pemanasan global di angka 1,5°C. Laporan Climate Action Tracker menilai, kebijakan iklim Indonesia bisa berkontribusi pada pemanasan hingga 4°C.
Sementara itu, pemanasan global akibat emisi membuat suhu makin tinggi, apalagi ketika memasuki periode El Nino, fenomena anomali iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat daripada kondisi biasanya.
Pada masa El Nino, dampak pemanasan global makin terasa, ditandai dengan kenaikan suhu udara, kekeringan, risiko kebakaran hutan meningkat, dan kualitas udara rentan memburuk. Dampak ini bisa berlangsung pada periode Juni hingga November, yang bersamaan dengan musim kemarau.
Belum ada solusi menekan polusi
Mengingat sebagian besar emisi gas rumah kaca berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, maka upaya mengurangi dampak panas tidak cukup hanya adaptasi dan antisipasi ketika El Nino datang. Pengurangan emisi harus dimulai dari kontributor terbesarnya yaitu energi fosil. Selama sumber emisi tidak berkurang, setiap periode El Nino berpotensi meningkatkan dampak panas yang lebih kuat daripada sebelumnya.
Oleh karena itu, perlu langkah sungguh-sungguh dalam upaya transisi energi, seperti penghentian pembangunan PLTU baru maupun percepatan pensiun infrastruktur penghasil energi kotor ini. Pengembangan energi terbarukan merupakan strategi iklim sekaligus memperbesar potensi untuk mengurangi paparan polusi dan risiko panas ekstrem.
Karena begitu banyak mudarat, pensiun dini PLTU layak diterapkan. Langkah ini berpotensi mencegah sekitar 182 ribu kematian akibat polusi udara serta menghindari total biaya kesehatan sekitar US$130 miliar pada masa mendatang.
Sayangnya, ketergantungan terhadap batu bara ini masih dipertahankan, sebagaimana arah kebijakan energi nasional justru masih membuka pemanfaatan energi fosil. Lihat saja Peraturan Pemerintah 40 Tahun 2025 (PP 40/2025) tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang ditetapkan pada 15 September 2025. PP 40/2025 ini rentan memperpanjang dominasi batu bara dan melemahkan komitmen mengurangi emisi karbon. Pemerintah menggunakan alasan diversifikasi energi melalui pemanfaatan teknologi pengolahan batu bara menjadi bentuk-bentuk lain, seperti gasifikasi dan likuifaksi.
Masalah lainnya juga bisa dilihat dari perkembangan PLTU captive yang memasok kebutuhan listrik kawasan industri. Laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor (GEM) menunjukkan peningkatan kapasitas PLTU captive di Indonesia, yang sebagian besar berlokasi di Sulawesi dan Maluku Utara, mengikuti ekspansi kawasan industri berbasis smelter. Pertumbuhan PLTU captive sama saja menghambat upaya penurunan emisi, karena membiarkan penggunaan batu bara untuk jangka panjang melalui investasi infrastruktur yang berumur puluhan tahun.
Kondisi ini memperlihatkan upaya mengurangi ketergantungan terhadap batu bara masih menghadapi tantangan besar. Target transisi energi berujung ambigu selama cerobong PLTU masih terus mengepul. Penggunaan batu bara untuk menghasilkan energi berarti terus menambah emisi yang memperbesar risiko perubahan iklim sekaligus memperburuk kualitas udara, dan mengancam kelangsungan seluruh makhluk hidup.

