Pusat Data di Indonesia terus Tumbuh: Bagaimana Memadukannya dengan Transisi Energi Terbarukan?

Cintya Faliana Penulis

18 April 2026

total-read

4

6 Menit membaca

Pusat Data di Indonesia terus Tumbuh: Bagaimana Memadukannya dengan Transisi Energi Terbarukan?

Kredit foto: Manhwa

Jumlah pusat data (data center) melonjak tajam dalam beberapa dekade terakhir. Tercatat ada belasan ribu pusat data di seluruh dunia per April 2026. Indonesia masuk sebagai 15 besar negara dengan pusat data terbanyak sebesar 185 di 32 kota. Meskipun, Amerika Serikat memiliki 23 kali lipat pusat data sebanyak 4.318. 

 

 

Besarnya jumlah pusat data ini akan semakin bertambah seiring waktu, terlebih dengan perkembangan akal imitasi (Artificial Intelligence/AI). Tren tersebut berisiko meningkatkan kebutuhan penggunaan energi untuk penyimpanan dan pengolahan data. 

 

Tercatat konsumsi energi yang dibutuhkan pusat data per 2025 saja mencapai 103 gigawatt (GW) dengan 25% di antaranya untuk AI. Sementara pada 2030 kebutuhan energi pusat data berpotensi naik tajam menjadi 200 GW dengan 50% di antaranya untuk AI. 

 

Secara spesifik, Indonesia membutuhkan konsumsi listrik sebesar 1,09 GW untuk pusat data pada 2025. Kementerian ESDM memperkirakan angka ini meningkat lima kali lipat pada 2034, menjadi 5,22 GW.

 

Potensi pertumbuhan pusat data yang terus melesat dalam beberapa tahun ke depan seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk membangun ekosistem pusat data berbasis energi terbarukan. Dengan kebutuhan listrik yang sangat besar dan terus meningkat, energi terbarukan bukan lagi sekadar alternatif, melainkan prasyarat untuk memastikan keberlanjutan sektor ini. Pada 2017 saja, bidang teknologi informasi berkontribusi sebesar 2% untuk emisi gas rumah kaca (GRK) global.

 

Namun, dalam kerangka transisi energi yang berkeadilan, tidak semua sumber energi terbarukan memiliki tingkat risiko yang sama. Energi seperti angin dan surya relatif lebih minim konflik karena tidak bergantung pada eksploitasi ruang hidup secara masif. Sebaliknya, sumber seperti tenaga air dan panas bumi masih menyimpan potensi risiko sosial, mulai dari konflik lahan hingga dampak terhadap komunitas lokal.

 

Untuk menopang energi terbarukan seperti angin dan surya yang bersifat intermiten atau tidak konsisten, dibutuhkan Battery Energy Storage System (BESS). Sistem baterai inilah yang membuat suplai listrik dari pembangkit surya atau angin dapat berlangsung konsisten selama 24 jam. Harapannya, kombinasi BESS dan energi terbarukan bisa mendukung pembangunan pusat data yang minim emisi. 

 

Potensi pusat data dan energi terbarukan lepas pantai

 

Penelitian Yasuo Ichinose dkk (2022) menyoroti perkembangan pusat data di Singapura yang membutuhkan biaya sangat besar akibat keterbatasan lahan dan infrastruktur pembangkit listrik. Ditambah dengan potensi energi terbarukan seperti surya dan angin yang tinggi, menghasilkan dua skenario terbaik untuk pembangunan pusat data di Asia tenggara.

 

Studi menyoroti potensi pembangunan pusat data di lepas pantai (offshore) dan yang dikombinasikan dengan pembangkit energi angin lepas pantai juga. Dengan pembangkit energi angin tipe fixed atau turbin ditanam di dasar laut, potensi penurunan emisi GRK mencapai 50% dibandingkan pusat data di darat berbasis energi surya.

 

Tidak hanya emisi yang menurun, kesulitan ekspansi juga turun sebesar 50%. Meskipun, total investasi naik sebesar 5%, tetapi kombinasi ini dianggap paling optimal. Sebab, kombinasi tersebut dapat memberikan dampak besar penurunan emisi tanpa lonjakan biaya yang signifikan.

 

Skenario tersebut dapat dibilang “lebih baik” dibandingkan skenario energi terbarukan lain. Misalnya, skenario pusat data dekat laut/pantai (nearshore) dipasangkan dengan pembangkit energi surya di darat memang menurunkan tingkat kesulitan ekspansi hingga 56%.  Biaya investasi yang dibutuhkan juga turun 2%, meski emisi CO₂ sepanjang siklus hidup justru meningkat sekitar 586 ton/tahun (sekitar 10%).

 

Singapura menjadi kasus khusus karena keterbatasan lahan yang lebih ekstrem dibanding kota-kota lain di Asia Tenggara seperti Jakarta, Bangkok, dan Manila. Untuk kota-kota besar ini, kombinasi pusat data nearshore dengan solar atau angin onshore secara konsisten menunjukkan kinerja paling baik dan mendekati titik optimal. 

 

BESS sebagai penopang energi terbarukan 

Pada dasarnya, pusat data membutuhkan sumber energi 24 jam untuk memastikan operasional tetap berlangsung. Sifat energi terbarukan, terutama angin dan surya, yang masih intermiten inilah yang perlu ditopang dengan penggunaan BESS


BESS akan menyimpan listrik dari energi terbarukan yang berlebih, kemudian  melepas energi saat dibutuhkan. Dari aspek emisi, penggunaan BESS juga akan lebih rendah jika sumber energinya terbarukan. 

 

Sebaliknya, BESS justru dapat menghindari emisi dari pembangkit fosil yang berisiko menyala untuk menutup gap pasokan energi terbarukan. Artinya, setiap kWh listrik yang dilepas dari BESS berbasis energi terbarukan secara efektif adalah emisi yang dapat dihindari dari penggunaan energi fosil.

 

Meski demikian, jejak karbon BESS tidak sepenuhnya hilang karena jejak emisi masih ada di tahap produksinya. Riset menunjukkan bahwa sekitar 60-80% emisi lifecycle berasal dari proses manufaktur, terutama dari produksi material dan energi yang digunakan di pabrik. 

 

Namun, jika BESS digunakan untuk menyerap listrik energi terbarukan secara maksimal, emisi ini dapat “terkompensasi” selama masa operasi karena BESS dapat menggantikan pembangkit fosil. Dengan kata lain, semakin tinggi penggunaan BESS untuk integrasi energi terbarukan, semakin besar kontribusinya pada penurunan emisi.

 

Pemilihan teknologi juga memengaruhi tingkat emisi yang dikeluarkan. Misalnya, penggunaan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) memiliki 15-20% emisi produksi lebih rendah dibandingkan Nickel Manganese Cobalt (NMC). Artinya, mulai dari jenis baterai hingga sumber listrik dapat menentukan seberapa besar kontribusi BESS terhadap dekarbonisasi.

Dengan demikian, dalam konfigurasi yang tepat, BESS bukan hanya mendukung energi terbarukan, tetapi memungkinkan penetrasi yang lebih tinggi sekaligus menurunkan emisi secara sistemik. Ia mengubah energi terbarukan dari sumber yang intermiten menjadi sumber yang dapat diandalkan, sekaligus mengurangi kebutuhan pembangkit fosil dalam menjaga stabilitas grid.

Butuh ekosistem kebijakan dan mitigasi risiko

Indonesia tentu memiliki banyak keunggulan untuk ditawarkan dalam pembangunan pusat data berbasis energi terbarukan. Dibandingkan dengan Singapura, ketersediaan lahan dan potensi energi terbarukan di Indonesia melimpah ruah. Potensi produksi listrik dari pembangkit energi surya terapung di Indonesia saja (termasuk di lepas pantai hingga danau) mencapai 35 ribu terawatt jam (tWh) atau melampaui produksi listrik global 2024 sebesar 30 ribu tWh.

 

Pemerintah bisa memanfaatkan peluang ekspansi pusat data sebagai momentum transisi energi yang berkeadilan. Dengan membangun ekosistem kebijakan sejak awal, industri ini bisa berkembang dengan standar yang rendah karbon dan tidak memperpanjang ketergantungan pada energi fosil.

 

Ketika integrasi energi terbarukan dan BESS dilakukan, termasuk untuk pengembangan berbasis pesisir atau offshore, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi alternatif, melainkan pusat baru data center rendah karbon di Asia Tenggara.

 

Tentu banyak risiko lingkungan data center bukan cuma terkait energi. Ini termasuk kebutuhan air yang sangat banyak untuk pendinginan, hingga tekanan terhadap kehidupan penduduk di pesisir. 

 

Namun, dalam ekonomi digital yang semakin menggeliat, pertumbuhan pusat data hampir tak terhindarkan. Alih-alih menahan laju pertumbuhannya, pemerintah bisa memitigasi berbagai risiko tersebut dengan menciptakan kebijakan yang tepat. 

Populer

Terbaru