Mengapa Energi Fosil Harus Segera Diakhiri?
Bram Setiawan • Penulis
06 Februari 2026
19
• 4 Menit membaca

Indonesia masih mengandalkan energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas untuk menyalakan pembangkit listrik. Sebanyak 85% pasokan energi untuk pembangkit listrik saja berasal dari sumber fosil, sehingga transisi ke energi terbarukan perlu digencarkan.
Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batu bara terbesar. Pada 2025, total ekspor batu bara sekitar 500 juta ton. Padahal, polusi udara yang dipicu penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil lainnya menyebabkan 2,52 juta kematian global pada 2022. Laporan The 2025 Report of the Lancet Countdown on Health and Climate Change menemukan ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil dan kegagalan beradaptasi terhadap perubahan iklim, yang mengakibatkan kerugian manusia.
Apa Itu Energi Fosil?
Energi fosil sebutan untuk sumber daya yang berasal sisa-sisa organisme purba, seperti tumbuhan dan mikroorganisme. Sisa organisme ini telah mengendap selama jutaan tahun di bawah permukaan Bumi. Dari proses tekanan dan panas alamiah, sisa-sisa organisme berubah menjadi batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang telah menjadi sumber energi di banyak negara.
Batu bara merupakan batuan sedimen organik berwarna cokelat tua hingga hitam yang mudah terbakar. Fosil ini terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami proses geologis hingga berubah fisik dan kimiawi.
Pada masa Revolusi Industri Eropa, penggunaan batu bara mendorong pertumbuhan ekonomi. Kawasan perkotaan yang lebih dekat ladang batu bara lebih cepat tumbuh setelah 1750. Peran sentral bahan bakar fosil dalam mendorong mekanisasi dan produktivitas menjadi landasan ekonomi industri modern.
Adapun minyak bumi terbentuk dari materi organik yang terpendam sehingga mengandung banyak karbon dan hidrogen. Campuran hidrokarbon cair alami ini yang menjadi salah satu komponen utama sumber energi fosil.
Gas alam tersusun atas metana, serta sejumlah kecil etana, propana, dan hidrokarbon lainnya. Gas ini terbentuk dari proses perubahan bentuk materi organik purba yang terkubur dan mengalami tekanan suhu tinggi. Gas alam biasanya ditemukan bersama minyak bumi atau terperangkap dalam reservoir batuan sedimen.
Penggunaan Energi Fosil
Batu bara digunakan untuk pembangkitan listrik dan industri berat. Sementara minyak fosil diproses di kilang menjadi berbagai produk turunan seperti bensin, diesel, jetfuel, serta bahan baku untuk produk petrokimia, plastik, dan pelumas.
Gas alam juga berguna sebagai sumber energi listrik dan bahan bahan baku dalam industri kimia, termasuk untuk produksi hidrogen dan amonia. Gas termasuk salah satu energi primer yang digunakan di sektor industri maupun rumah tangga di Indonesia.
Meskipun energi fosil menopang sebagian besar kebutuhan energi dunia, pembakaran dan penggunaan produknya menghasilkan emisi gas rumah kaca dan dampak masalah lingkungan lainnya, misalnya pencemaran dan masalah gangguan pernapasan hingga kematian yang ditimbulkan.
Mengapa Energi Fosil Harus Diganti?
Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengatakan ketergantungan terhadap energi fosil akan merusak perekonomian negara. Ketergantungan ini cenderung melemahkan daya saing negara-negara karena biaya dan risiko terkait bahan bakar fosil makin tinggi. Risiko ini timbul karena pasokan energi fosil rentan terganggu karena konflik geopolitik global, seperti kasus invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang membuat harga batu bara melonjak.
Selain itu, riset tahun 2021 menghitung adanya 10,2 juta kematian prematur per tahun di dunia akibat paparan partikel debu 2,5 mikron (PM 2,5) dari pembakaran bahan bakar fosil selama 2012 - 2018. Angka kematian ini terbanyak di wilayah yang memiliki konsentrasi tinggi polusi partikel halus dari bahan bakar fosil, termasuk Cina (3,9 juta) dan India (2,5 juta). Perkiraan ini tergolong tinggi meskipun konsentrasi polusi menurun di beberapa wilayah antara 2012 hingga 2018. Adapun jumlah global sekitar 8,7 juta kematian pada 2018.
Jika membuat perbandingan merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penduduk kota ini pada 2025 mencapai 10,7 juta jiwa. Berarti, angka 8,7 juta kematian hampir mendekati jumlah penduduk Jakarta. Angka 8,7 juta sekitar 81,3 persen dari 10,7 juta.
Di Indonesia, kebijakan energi yang masih mempertahankan subsidi besar untuk energi fosil memunculkan harga buatan dan menghambat pengembangan energi terbarukan. Subsidi ini tidak hanya menyulitkan transisi energi terbarukan, tetapi juga menyembunyikan biaya sebenarnya dari produksi energi fosil yang memicu kerugian lingkungan dan ekonomi.
Hal ini sangat disayangkan karena sebenarnya listrik dari energi surya dan angin secara signifikan lebih murah dibandingkan sumber energi fosil. Menurut catatan International Renewable Energy Agency (IRENA), dari 584 gigawatt proyek listrik energi terbarukan tahun 2024, sebanyak 91% di antaranya tercatat lebih murah dibandingkan energi fosil. Potensi energi terbarukan juga tersedia di mana-mana dan memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan energi fosil.
Oleh karena itu, tanpa transformasi kebijakan yang benar-benar mendukung pengakhiran energi fosil, sulit berharap transisi energi terbarukan Indonesia bisa tercapai sesuai target.




